Diterbitkan pada: 26/05/2026
Kemendikdasdmen, Lampung--- Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah terus berkomitmen mendorong percepatan digitalisasi pendidikan di Indonesia. Pemanfaatan Interactive Flat Panel (IFP) sebagai media pembelajaran yang interaktif, efektif, dan menyenangkan mulai dirasakan dampaknya oleh satuan pendidikan, salah satunya SMAN 13 Kota Lampung. Kehadiran IFP di sekolah membawa perubahan besar dalam ekosistem belajar-mengajar dibandingkan dengan penggunaan proyektor yang membutuhkan waktu relatif lama untuk sinkronisasi pada gawai pendamping. IFP memberikan kepraktisan yang signifikan melalui efisiensi waktu. IFP hadir layaknya gawai pintar dalam versi lebih besar yang dilengkapi dengan koneksi internet dan ekosistem aplikasi. Sehingga, para guru dapat dengan mudah mengakses materi pembelajaran secara langsung. Ibu Romiyati, Guru Kimia SMAN 14 Bandar Lampung mengatakan dengan adanya IFP di sekolah memudahkan guru dalam mengajar, lebih interaktif dalam menjelaskan materi. "Dengan menggunakan IFP, metode pembelajaran menjadi lebih beragam. Guru bisa menulis di papan tulis digtal, memutar video edukasi secara bersamaan, hingga membuka Power Point (PPT) dalam satu waktu," ujarnya. Integrasi teknologi pendidikan juga diperkuat dengan optimalisasi akun belajar.id yang wajib dimiliki oleh para pendidik. Melalui akun ini, guru dapat menyimpan materi di Google Drive dengan kapasitas memori yang besar serta mengakses platform digital pemerintah seperti Rumah Pendidikan yang menyediakan ruang guru, ruang murid, hingga media pembelajaran interaktif secara gratis. Dampak positif tidak hanya dirasakan oleh tenaga pendidik, melainkan juga oleh para siswa. Naysiffa Aiera Yustika Putri, kelas XI di SMAN 14 Bandar Lampung salah satunya. Ia mengatakan bahwa metode belajar visual dan interaktif, termasuk adanya gim edukasi di dalam IFP, membuat suasana kelas menjadi jauh dari kata membosankan. ”Dengan adanya gim di IFP, pembelajaran menjadi lebih efektif, menarik, dan menyenangkan. Jadi, tidak membosankan”, kata Naysiffa. Di lain sisi, pihak sekolah berharap agar ada penambahan kuota unit IFP yang merata di setiap jenjang kelas dan mengadakan pelatihan membuat konten edukasi sebagai bahan ajar sehingga meningkatkan motivasi belajar para siswa. ”Penambahan IFP di tiap kelas, membantu para siswa belajar secara mandiri. Lalu, konten edukasi dibuat sebagai bahan ajar yang baik memerlukan pelatihan agar nantinya IFP dapat digunakan tanpa internet, cukup dengan bahan ajar yang telah dibuat,” tambah Romiyati. Naysiffa juga menambahkan harapannya IFP dapat disalurkan secara merata di seluruh sekolah Indonesia agar siswa lain juga mendapat manfaat yang sama sepertinya dan teman-temannya. Harapannya melalui sinergi teknologi yang tepat guna ini, diharapkan motivasi belajar siswa semakin meningkat demi menyongsong masa depan pendidikan Indonesia yang unggul dan berdaya saing global.
Penulis: Devy Putri Puspitasari
Editor: Denty Anugrahmawaty