Diterbitkan pada: 23/05/2026
Makassar, 24 Mei 2026 — Biro Komunikasi dan Hubungan Masyarakat (BKHM) Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) menyelenggarakan Forum Komunikasi Publik dengan tema “Kolaborasi Strategis dalam Meningkatkan Akses dan Kualitas Pendidikan Dasar dan Menengah” di Balai Besar Penjaminan Mutu Pendidikan (BBPMP) Sulawesi Selatan pada Sabtu (23/5) sebagai ruang dialog dan kolaborasi untuk memperkuat pemahaman masyarakat terhadap kebijakan pendidikan sekaligus mendorong partisipasi semesta dalam mewujudkan pendidikan bermutu. Kepala Biro Komunikasi dan Humas, Yudhistira Nugraha, menegaskan bahwa komunikasi publik memiliki peran penting dalam pendidikan karena menjadi sarana untuk memastikan informasi dan kebijakan tersampaikan secara benar dan akurat kepada masyarakat. “Komunikasi publik itu menjadi sangat-sangat penting tentunya dalam pendidikan karena ini menjadi hal yang penting bagaimana kita bisa menyampaikan informasi itu secara benar dan akurat,” ujarnya. Ia menjelaskan bahwa Kemendikdasmen menggunakan pendekatan SIMI (Sosialisasi, Informasi, Mitigasi, dan Intervensi) dalam komunikasi publik pendidikan. Melalui pendekatan tersebut, kementerian berupaya memastikan kebijakan dapat dipahami masyarakat dengan bahasa yang sederhana, memberikan informasi yang utuh, mengantisipasi misinformasi, serta menghadirkan respons cepat dan kolaboratif terhadap berbagai persoalan pendidikan. Menurutnya, pendidikan bermutu tidak cukup dibangun hanya melalui kebijakan, tetapi juga membutuhkan partisipasi semesta melalui kolaborasi berbagai pemangku kepentingan, mulai dari guru, orang tua, murid, komunitas, media, organisasi masyarakat, hingga dunia usaha. Hal tersebut sejalan dengan konsep Catur Pusat Pendidikan yang menempatkan keluarga, sekolah, masyarakat, dan media sebagai bagian penting dalam ekosistem pendidikan. “Pendidikan tidak bisa dibangun hanya oleh kementerian saja, butuh partisipasi semesta. Kami percaya bahwa komunikasi publik yang baik akan melahirkan kepercayaan publik (public trust). Ketika kepercayaan tumbuh, kolaborasi akan jauh lebih meningkat,” ujar Yudhistira. Ia menambahkan bahwa Kemendikdasmen mendorong tiga pendekatan dalam pembangunan pendidikan, yakni infrastruktur fisik melalui revitalisasi satuan pendidikan dan pemerataan akses pendidikan, infrastruktur pedagogis melalui pendekatan Pembelajaran Mendalam (Deep Learning), serta infrastruktur budaya melalui program Budaya Sekolah Aman dan Nyaman (BSAN). Sementara itu, dalam paparannya, Kepala Pusat Kurikulum dan Pembelajaran, Laksmi Dewi, menjelaskan bahwa Pembelajaran Mendalam merupakan pendekatan yang menempatkan peserta didik sebagai pusat proses pembelajaran. “Pembelajaran Mendalam adalah pendekatan yang memanusiakan siswa. Kata kuncinya adalah menghargai dan melibatkan siswa secara utuh dalam proses belajar. Ini bukan kurikulum baru, melainkan ‘nafas’ atau inti dari kurikulum itu sendiri,” ujarnya. Ia menjelaskan bahwa proses pembelajaran dalam pendekatan Pembelajaran Mendalam (Deep Learning) perlu memenuhi tiga prinsip utama, yakni Berkesadaran (Mindful), Bermakna (Meaningful), dan Menggembirakan (Joyful). “Proses belajar harus memenuhi tiga prinsip: Berkesadaran (Mindful) di mana siswa tahu tujuan mereka belajar; Bermakna (Meaningful) yaitu materi yang dikaitkan dengan kehidupan nyata; dan Menggembirakan (Joyful) agar tumbuh motivasi intrinsik dalam diri siswa,” jelasnya. Pada kesempatan yang sama, Kepala BBPMP Sulawesi Selatan, Imran mengajak seluruh pihak untuk memperkuat kolaborasi dan menyatukan gagasan agar peserta didik memperoleh pengalaman belajar yang positif serta penguatan kemampuan hidup. Ia juga mengajak seluruh peserta untuk memperkuat komitmen bersama, berdiskusi, dan membagikan praktik baik yang telah dilakukan oleh siswa, pelajar, mahasiswa, maupun guru untuk kemudian dihimpun menjadi gerakan bersama. “Kita harus menyatukan ide, kita harus menguatkan kerja kolaborasi agar nanti anak-anak kita terus mendapatkan hal-hal yang positif, mendapatkan kemampuan untuk meningkatkan kemampuan kehidupannya,” ujarnya. Salah satu peserta, Andi Masrianti, guru SMK Negeri 3 Makassar, menyampaikan bahwa kegiatan tersebut memberikan pemahaman yang lebih luas terkait pemanfaatan Rumah Pendidikan dan implementasi Pembelajaran Mendalam. “Kegiatan ini sangat bermanfaat, terutama dalam memberikan pemahaman mengenai Rumah Pendidikan dan Pembelajaran Mendalam. Saya menjadi lebih paham tentang bagaimana Rumah Pendidikan bekerja. Selama ini kami sering menggunakan beberapa fitur seperti Ruang GTK, namun melalui kegiatan ini kami mengetahui masih banyak fitur lain yang dapat dimanfaatkan, seperti Ruang Mitra dan ruang-ruang lainnya,” ujarnya. Forum Komunikasi Publik juga menjadi ruang pembelajaran dan refleksi bagi peserta didik. Salah satu peserta dari SMK Negeri 10 Bulukumba, Saskiatun Nafsi, mengaku memperoleh pemahaman baru mengenai Pembelajaran Mendalam. “Hal yang dapat saya pahami dari Pembelajaran Mendalam adalah cara belajar siswa yang tidak hanya sekadar menghafal materi, tetapi juga memahami, menganalisis, dan mampu menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari. Melalui pendekatan ini, siswa juga didorong untuk berpikir kreatif, kritis, dan mampu mencari solusi sendiri,” ujarnya. Fahri, siswa kelas X SMA Negeri 14 Makassar, menilai materi Budaya Sekolah Aman dan Nyaman memberikan pemahaman baru mengenai pentingnya lingkungan belajar yang inklusif dan berpihak pada peserta didik. “Setelah mendengar materi tadi, saya mendapatkan pencerahan bahwa budaya sekolah yang aman dan nyaman adalah sekolah yang inklusif kepada siswa-siswanya. Sekolah tersebut harus mampu mendengar keluh kesah siswa serta mampu mengimplementasikan Pembelajaran Mendalam bagi seluruh siswa, guru, dan elemen sekolah lainnya,” ujarnya. Sementara itu, Fatimah Azahra, Duta SMA Provinsi Sulawesi Selatan, menilai forum ini menjadi ruang diskusi yang inklusif karena mempertemukan peserta dari berbagai jenjang pendidikan dan pemangku kepentingan. “Menurut pendapat saya, kegiatan kali ini sangat seru karena forum diskusinya bersifat publik. Pesertanya bukan cuma dari kalangan siswa, tetapi juga ada guru. Keterlibatan pihak Kementerian juga sangat mendukung kesuksesan kegiatan ini,” ujarnya. Menurut Fatimah, materi Budaya Sekolah Aman dan Nyaman memberikan pemahaman bahwa lingkungan belajar yang baik tidak hanya bebas dari tekanan akademik, tetapi juga bebas dari perundungan dan berbagai persoalan nonakademik. “Bagi saya, sekolah yang aman dan nyaman itu adalah ketika kita bisa belajar tanpa tekanan. Bukan hanya tekanan akademik, tetapi juga tanpa perundungan maupun persoalan nonakademik lainnya. Untuk mewujudkannya, kita perlu membangun kerukunan antar teman terlebih dahulu,” tuturnya. Kegiatan ini diikuti oleh sekitar 250 peserta yang terdiri atas guru, orang tua, dan murid pada jenjang SMP, MTs, SMA, dan SMK. Dalam forum tersebut, peserta memperoleh paparan mengenai berbagai kebijakan dan program prioritas Kemendikdasmen, mulai dari Rumah Pendidikan yang disampaikan oleh Gamal Abdul Rohim, Pelatih Ahli Teknologi pada Pusat Data dan Informasi, Pembelajaran Mendalam (Deep Learning) oleh Laksmi Dewi, Kepala Pusat Kurikulum dan Pembelajaran, hingga materi Budaya Sekolah Aman dan Nyaman (BSAN) yang dipaparkan oleh Dina Ayu Mirta, Pranata Humas Ahli Madya dari Pusat Penguatan Karakter. Melalui forum ini diharapkan terbangun pemahaman yang lebih komprehensif mengenai berbagai kebijakan pendidikan, sekaligus menjadi ruang dialog untuk menyerap aspirasi, masukan, serta praktik baik dari berbagai elemen masyarakat. Selain itu, forum ini diharapkan dapat memperkuat kolaborasi strategis antar pemangku kepentingan dalam meningkatkan akses dan kualitas pendidikan dasar dan menengah.*** (Penulis: Destya: Fotografer: Rayhan) Biro Komunikasi dan Hubungan Masyarakat Laman: kemendikdasmen.go.id #PendidikanBermutuuntukSemua
Sekretariat Jenderal
Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah
X: x.com/Kemdikdasmen
Instagram: instagram.com/kemendikdasmen
Facebook: facebook.com/kemendikdasmen
YouTube: KEMDIKDASMEN
Pertanyaan dan Pengaduan: ult.kemendikdasmen.go.id
Siaran Pers Kemendikdasmen: kemendikdasmen.go.id/pencarian/berita
#KemendikdasmenRamah
Penulis: Destya
Editor: Denty Anugrahmawaty