Diterbitkan pada: 14/01/2026
Banjarbaru, Kemendikdasmen — Pelaksanaan Program Budaya Sekolah Aman dan Nyaman (BSAN) melalui Permendikdasmen Nomor 6 Tahun 2026 mendapat sambutan positif dari seluruh warga SMP Negeri 2 Banjarbaru. Program ini dinilai tidak hanya memperkuat aspek perlindungan murid, tetapi juga mendorong partisipasi semesta dari guru, murid, orang tua, hingga masyarakat sekitar sekolah. Kepala Pusat Penguatan Karakter (Puspeka) Kemendikdasmen, Rusprita Putri Utami, menegaskan bahwa keberhasilan budaya sekolah aman dan nyaman bertumpu pada pelibatan semua pihak. “Upaya kita untuk mewujudkan budaya sekolah aman dan nyaman, kuncinya adalah pelibatan seluruh pihak. Orang tua menjadi teladan di rumah, guru menjadi teladan di sekolah, dan masyarakat juga memiliki tanggung jawab yang sama,” ujarnya di Kota Banjarbaru, Kalimantan Selatan. Ia juga menekankan bahwa kebijakan ini tidak lagi hanya berfokus pada pencegahan kekerasan, tetapi lebih komprehensif. “Konteks aman dan nyaman di sekolah bukan hanya terkait isu kekerasan, tetapi bagaimana sekolah menjadi tempat yang benar-benar aman, bebas polusi, asap rokok, serta menjamin keamanan dan keadaban digital,” katanya. Dukungan terhadap kebijakan ini juga disampaikan oleh Kepala SMP Negeri 2 Banjarbaru, Norpiah. Ia menyampaikan bahwa sekolah telah menyiapkan berbagai langkah konkret untuk memastikan murid merasa aman dan nyaman secara menyeluruh. “Kami memulai dari penyusunan kurikulum satuan pendidikan dan rencana kerja sekolah,” ungkap Norpiah. Ia menambahkan bahwa sekolah memastikan fasilitas aman dan ramah anak, menjamin kebebasan berekspresi murid, mencegah bullying, menjunjung kesetaraan sosial dan budaya, mengawasi ruang digital, serta menjamin kebebasan beribadah seluruh murid. Norpiah menjelaskan bahwa sekolah menerapkan deteksi dini sejak penerimaan murid baru. “Sebelum siswa masuk, kami sudah membagikan formulir riwayat kesehatan, kebutuhan psikologis, serta minat dan bakat. Ini membantu kami memetakan kebutuhan mereka agar sejak hari pertama sudah merasa nyaman,” imbuhnya. Peran guru sebagai pendamping murid juga menjadi bagian penting dalam mendukung implementasi kebijakan ini. Guru wali SMP Negeri 2 Banjarbaru, Eli Setiawan, menyampaikan bahwa komunikasi yang humanis dan pendampingan berkelanjutan menjadi praktik utama di sekolah. “Di sinilah harus selalu mengadakan semacam komunikasi yang ramah, kemudian yang santun, yang semua itu adalah demi kebaikan anak,” tuturnya. Ia menambahkan, kepekaan guru terhadap perubahan perilaku murid sangat penting untuk menjaga kesejahteraan psikologis. “Kalau ada anak yang biasanya ceria tiba-tiba jadi pendiam, itu sinyal bagi kami untuk lebih peka. Jangan sampai guru sibuk mengajar tapi lupa mendidik dan mendampingi,” katanya. Perwakilan siswa SMP Negeri 2 Banjarbaru, Malik Farabi Ramadani, memaknai sekolah aman dan nyaman dari dukungan sarana prasarana serta kualitas relasi di sekolah. “Jika sarana dan prasarana mendukung, maka sekolah bisa dikatakan aman dan nyaman. Selain itu, hubungan yang baik dengan teman dan guru, saling menghormati dan menghargai perbedaan, membuat saya semakin semangat ke sekolah,” ujar Malik. Menurutnya, peran teman sebaya sebagai “sahabat hebat” turut membantu menciptakan lingkungan sekolah yang sehat. “Dengan punya hubungan yang positif, kita bisa saling menolong, jadi tempat curhat, dan belajar mencari solusi bersama,” tambahnya. Melalui keterlibatan aktif seluruh warga sekolah, mulai dari kepala sekolah, guru, tenaga kependidikan, murid, orang tua, hingga masyarakat dan media, penyelenggaraan Budaya Sekolah Aman dan Nyaman diharapkan berjalan secara konsisten dan berkelanjutan. Kolaborasi lintas pihak ini menjadi fondasi untuk membangun lingkungan belajar yang aman, sehat, inklusif, serta menjunjung tinggi martabat manusia dan mendukung tumbuh kembang murid secara utuh, baik secara akademik, karakter, mental, sosial, maupun spiritual. (Penulis: Ikke, Intan/Editor: Denty A.)
Penulis: Kontributor BKHM
Editor: Denty Anugrahmawaty