Diterbikan pada: 22 Mei 2026
Jakarta, 22 Mei 2026 – Dalam momentum Peringatan Hari Pendidikan Nasional, Hari Buku Nasional 2026, dan Hari Kebangkitan Nasional terdapat cerita tentang semangat literasi yang terus tumbuh dari wilayah perbatasan antara Indonesia dengan Malaysia. Di Kabupaten Malinau, Kalimantan Utara, keterbatasan akses dan tantangan geografis tidak menghalangi masyarakat untuk membangun budaya literasi yang hidup melalui kolaborasi pemerintah daerah, sekolah, keluarga, komunitas, dan masyarakat. Sebagai wilayah yang sebagian besar masih berupa hutan alam dan hanya dapat dijangkau melalui jalur sungai serta perjalanan darat yang panjang, Malinau menunjukkan bahwa penguatan literasi dapat tumbuh dari partisipasi semesta. Dalam semangat tersebut, Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa (Badan Bahasa), Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) bekerja sama dengan Program Inovasi untuk Anak Sekolah Indonesia (INOVASI) kemitraan pendidikan antara pemerintah Indonesia dan Australia, menyelenggarakan gelar wicara bertajuk “Cerita dari Perbatasan: Praktik Baik Partisipasi Semesta dalam Pembangunan Literasi di Malinau, Kalimantan Utara” untuk menyebarluaskan praktik baik literasi yang mendukung Gerakan Literasi Nasional dan visi Pendidikan Bermutu untuk Semua. Kepala Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa, Hafidz Muksin, dalam paparannya menegaskan bahwa literasi menjadi fondasi utama dalam pembangunan sumber daya manusia dan pencapaian tujuan pendidikan nasional. “Literasi menjadi fondasi penting mendapatkan ilmu pengetahuan dan teknologi. Pendidikan dan literasi tidak dapat dipisahkan untuk mewujudkan tujuan pendidikan nasional,” ujarnya di Kantor Badan Bahasa, Jakarta pada Kamis (21/5). Hafidz menegaskan bahwa visi Pendidikan Bermutu untuk Semua yang diusung Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen) Abdul Mu’ti, dilandasi semangat agar layanan pendidikan dapat dinikmati seluruh masyarakat Indonesia tanpa terkecuali. “Pilar terpenting pendidikan adalah guru, sarana yang memadai, dan pembelajaran yang bermakna. Literasi menjadi alat utama untuk meningkatkan pemahaman siswa, tidak hanya sekadar membaca dan menulis, tetapi memahami apa yang dibacanya,” tuturnya. Ia juga mengungkapkan bahwa praktik baik dari Malinau menunjukkan bahwa keterbatasan geografis tidak menjadi penghalang untuk membangun budaya literasi yang kuat. “Orang sering mengatakan daerah Tertinggal, Terdepan, Terluar (3T) dan perbatasan memiliki keterbatasan. Namun Malinau menunjukkan bahwa dengan keterbatasan justru lahir inovasi dan kreativitas yang luar biasa,” ungkap Hafidz. Selain itu, Hafidz juga mengungkapkan bahwa Indeks Kegemaran Membaca Provinsi Kalimantan Utara berada di atas rata-rata nasional. “Indeks Kegemaran Membaca nasional tahun 2025 berada di angka 54,8. Namun Kalimantan Utara mencapai 58,89. Ini bukan hasil yang datang begitu saja. Ada cerita, kerja keras, dan gerakan bersama di baliknya khususnya di Kabupaten Malinau,” ujarnya. Sementara itu, Bunda Literasi Kabupaten Malinau, Maylenty Wempi, yang turut menjadi narasumber dalam gelar wicara tersebut, menegaskan bahwa gerakan literasi di wilayahnya dibangun melalui semangat gotong royong dengan pendekatan berbasis keluarga. “Gerakan literasi di Kabupaten Malinau adalah gerakan bersama. Bukan hanya tugas pemerintah, tetapi semua mengambil peran,” ujarnya. Menurut Maylenty, keluarga menjadi titik awal yang strategis dalam menumbuhkan budaya baca di masyarakat. Kolaborasi dengan berbagai pihak, termasuk INOVASI, turut memperkuat kesadaran akan pentingnya literasi sejak dini. “Kami menyadari peran kami sangat strategis karena langsung menyentuh keluarga,” katanya. Ia menambahkan bahwa literasi berperan dalam meningkatkan kemampuan memahami kondisi, berpikir kritis, berkomunikasi efektif, serta membentuk karakter. Ia juga mengakui tantangan geografis Malinau sebagai wilayah perbatasan dengan luas wilayah dan keberagaman budaya, termasuk 11 suku asli. Karena itu, pendekatan berbasis budaya dan bahasa lokal menjadi penting agar masyarakat lebih mudah terlibat. Meski demikian, gerakan literasi terus berkembang melalui sinergi lintas sektor hingga tingkat desa dan RT. Partisipasi berbagai pihak mendorong peningkatan jumlah pegiat literasi dan Taman Bacaan Masyarakat (TBM) secara konsisten. Sejak 2020, jumlah TBM meningkat dari 5 menjadi 96 unit pada 2026, sementara jumlah pegiat literasi bertambah dari 11 menjadi sekitar 768 orang. Peningkatan ini menunjukkan bahwa kolaborasi yang terbangun mampu memperkuat ekosistem literasi secara inklusif dan berkelanjutan.*** (Penulis: Ririn, Denty/Fotografer: Tim Badan Bahasa) Biro Komunikasi dan Hubungan Masyarakat Laman: kemendikdasmen.go.id #PendidikanBermutuuntukSemua
Sekretariat Jenderal
Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah
X: x.com/Kemdikdasmen
Instagram: instagram.com/kemendikdasmen
Facebook: facebook.com/kemendikdasmen
YouTube: KEMDIKDASMEN
Pertanyaan dan Pengaduan: ult.kemendikdasmen.go.id
Siaran Pers Kemendikdasmen: kemendikdasmen.go.id/pencarian/siaran-pers
#KemendikdasmenRamah
Sumber: Siaran Pers Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah Nomor: 411/sipers/A6/V/2026
Penulis: Ririn Ramandani
Editor: Denty Anugrahmawaty
Badan Bahasa
Dinas Pendidikan
Ruang Pemerintah
Ruang Mitra
Ruang Publik
Ruang Bahasa
Murid Dikdasmen
Mitra Dikdasmen
Orang Tua
Sastrawan
Pegiat Literasi
Wajib Belajar 13 Tahun dan Pemerataan Kesempatan Pendidikan
Pembangunan Bahasa dan Sastra