Diterbikan pada: 11 Februari 2026
Depok, Jawa Barat, 11 Februari 2026 - Konsolidasi Nasional Pendidikan Dasar dan Menengah 2026 (Konsolnas) resmi berakhir hari ini. Di tengah dinamika diskusi kebijakan, sebuah inovasi dari Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) mencuri perhatian karena keberhasilannya menyentuh aspek paling fundamental dalam pendidikan, yakni pembentukan karakter murid melalui sentuhan digital yang berpadu dengan nilai-nilai luhur budaya. Inovasi tersebut adalah aplikasi SiMHabit (Sistem Monitoring 7 Kebiasaan Anak Indonesia Hebat), Sebuah aplikasi berbasis web yang dikembangkan secara mandiri oleh guru di SMAN 1 Yogyakarta. Aplikasi ini dikembangkan secara khusus untuk memastikan program 7 Kebiasaan Anak Indonesia Hebat (7 KAIH) benar-benar menjadi napas keseharian bagi para murid di sekolah tersebut tetap terpantau, sekaligus menjadi panduan aktivitas keseharian mereka saat berada di luar lingkungan sekolah. Kepala Dinas Pendidikan, Pemuda, dan Olahraga (Dikpora) DIY, Suhirman, dalam paparan praktik baiknya menjelaskan bahwa setiap pagi hingga malam, murid secara mandiri mengisi aktivitas harian mereka di SiMHabit. Mulai dari kebiasaan beribadah, bangun pagi, hingga membantu orang tua, seluruhnya tercatat sesuai waktu pengisian secara realtime. “Karakter itu bukan sesuatu yang tiba-tiba jadi, ia adalah hasil dari pengulangan atau habituasi. Dengan SiMHabit, kami tidak hanya meminta murid melakukan 7 Kebiasaan Anak Indonesia Hebat, tetapi kami hadir untuk menemani dan memantau proses mereka setiap hari,” ujar Suhirman di hadapan peserta konsolidasi, Rabu (11/2). Suhirman menambahkan bahwa kekuatan aplikasi ini terletak pada ekosistem kolaborasi. Guru tidak hanya menjadi pengajar di kelas, tetapi juga mentor yang memonitor perkembangan karakter murid setiap minggu melalui dasbor aplikasi. Tak berhenti di sana, orang tua pun memperoleh laporan bulanan mengenai perkembangan perilaku anak-anak mereka. “Pendidikan adalah tanggung jawab bersama. Melalui laporan bulanan dari SiMHabit, orang tua bisa melihat sejauh mana putra-putri mereka tumbuh menjadi pribadi yang hebat. Jika ada perkembangan yang kurang baik, sekolah dan orang tua bisa segera berdiskusi untuk memberikan pendampingan yang lebih humanis,” tambah Suhirman. Suhirman juga memaparkan praktik baik dari SMAN 8 Yogyakarta, agar para murid semangat dalam menerapkan 7 KAIH, maka sebagai bentuk apresiasi terhadap kejujuran dan konsistensi murid, pihak SMAN 8 Yogyakarta juga memberikan penghargaan bagi murid-muridnya dengan performa terbaik dalam menerapkan 7 KAIH. Penghargaan ini diharapkan dapat memantik semangat kompetisi positif di kalangan murid untuk terus berbuat baik. Menariknya, meskipun menggunakan perangkat digital modern, Yogyakarta tetap berpijak pada jati diri bangsa. Nilai-nilai kearifan lokal yang tertuang dalam Pendidikan Khas Kejogjaan (PKJ) diintegrasikan secara utuh ke dalam 7 KAIH. Berdasarkan Peraturan Gubernur DIY Nomor 40 Tahun 2022, PKJ mengedepankan pembentukan Jalma Kang Utama atau manusia unggul yang memiliki tata krama (unggah-ungguh) dan rendah hati (andhap asor) melalui penerapan nilai utama (ngajeni), seperti ngapurancang, jempol, nuwun sewu/nderek langkung, nyuwun pangapunten, matur nuwun, dan monggo. Selain itu, pembiasaan 5S (senyum, salam, sapa, sopan, santun), penggunaan busana adat gagrak Yogyakarta setiap Kamis, serta pembelajaran seni tradisional seperti membatik dan karawitan turut menjadi bagian dari implementasi PKJ. “Pemerintah Daerah Istimewa Yogyakarta mengintegrasikan nilai-nilai kearifan lokal ke dalam 7 KAIH melalui Pendidikan Khas Kejogjaan. Kami ingin murid-murid kami menjadi anak Indonesia yang hebat secara nasional, namun tetap memiliki akar budaya yang kuat sebagai orang Yogyakarta. Hal ini merupakan praktik baik yang dapat diterapkan di daerah lain dengan mengintegrasikan nilai-nilai kelokalannya masing-masing ke dalam 7 KAIH,” jelas Suhirman. Melalui sinergi antara kebijakan nasional 7 KAIH, dukungan teknologi SiMHabit, dan penguatan lokal PKJ, Yogyakarta menawarkan sebuah model pendidikan karakter yang utuh. Model ini sejalan dengan visi Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) dalam melahirkan generasi yang cerdas secara intelektual, sekaligus memiliki kelembutan budi dan integritas tinggi.*** (Penulis: Rany/Editor: Ririn, Denty, Seno/Dokumentasi: Tim BKHM)
Biro Komunikasi dan Hubungan Masyarakat
Sekretariat Jenderal
Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah
Laman: kemendikdasmen.go.id
X: x.com/Kemdikdasmen
Instagram: instagram.com/kemendikdasmen
Facebook: facebook.com/kemendikdasmen
YouTube: KEMDIKDASMEN
Pertanyaan dan Pengaduan: ult.kemendikdasmen.go.id
Siaran Pers Kemendikdasmen: kemendikdasmen.go.id/pencarian/siaran-pers
#PendidikanBermutuuntukSemua
#KemendikdasmenRamah
Sumber: Siaran Pers Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah Nomor: 115/sipers/A6/II/2026
Penulis: Rany Larasari
Editor: Denty Anugrahmawaty
PaudDikdasmen
Pendidikan Vokasi
Badan Bahasa
BSKAP
Guru Sekolah Kejuruan
Sekolah Kejuruan
Dinas Pendidikan
Ruang Murid
Ruang GTK
Ruang Sekolah
Ruang Orang Tua
Ruang Pemerintah
Ruang Mitra
Ruang Publik
Ruang Bahasa
GTK
Itjen
Vokasi
Sekjen
Murid Kejuruan
Guru PAUD
Guru Dikdasmen
Sekolah PAUD
Sekolah Dikdasmen
Murid PAUD
Murid Dikdasmen
Mitra Dikdasmen
Orang Tua
Sastrawan
Pegiat Literasi
Penguatan Pendidikan Karakter