Pendidikan Friendly rumah_pendidikan
Temukan informasi tentang Kemendikdasmen, struktur organisasi, dan regulasi
Informasi Profil Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah
Informasi Publik Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah
Temukan kabar, siaran pers, pengumuman, dan dokumentasi resmi dari Kemendikdasmen
Informasi Umum
Beranda
Button Icon
Button Icon
PPID
Button Icon Beranda
Button Icon Profil
Temukan informasi tentang Kemendikdasmen, struktur organisasi, dan regulasi
Button Icon
Button Icon
Button Icon
Button Icon PPID
Menolak Menyerah pada Keadaan, SPMB PJJ Buka Harapan Anak Putus Sekolah Kembali Belajar

Diterbitkan pada: 13/07/2026

Bagikan

Gambar Siaran Pers

Jakarta, 13 Juli 2026 – Melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi kini bukan lagi sekadar impian bagi anak-anak Indonesia yang terpaksa putus sekolah. Melalui Sistem Penerimaan Murid Baru Pendidikan Jarak Jauh (SPMB PJJ), Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) membuka kembali akses pendidikan bagi anak tidak sekolah melalui Program Pendidikan Jarak Jauh (PJJ) Jenjang Pendidikan Menengah, sehingga mereka memiliki kesempatan untuk kembali belajar dan meraih masa depan yang lebih baik.

Bagi Najma Alya br Sianturi, enam bulan tanpa seragam sekolah adalah masa-masa penuh kesedihan. Setelah putus sekolah, hari-harinya lebih banyak dihabiskan untuk menyendiri di rumah. “Mau kerja juga kerja apa kalau hanya ijazah SMP,” ujar Najma.

Najma awalnya bersekolah di SMKS Imelda, Deli Serdang, Sumatra Utara. Namun, ia terpaksa putus sekolah pada semester kedua karena keterbatasan ekonomi orang tuanya. “Tadinya, saya pilih Jurusan Multimedia di SMK agar setelah lulus bisa langsung kerja dan bantu orang tua. Tapi, ternyata, uang bulanan dan biaya praktikum di SMK sangat memberatkan untuk orang tua. Saya terpaksa putus sekolah karena tidak ada biaya,” ungkap anak kedua dari dua bersaudara ini.

Harapan Najma untuk kembali bersekolah mulai tumbuh setelah mengetahui adanya SPMB PJJ Jenjang Pendidikan Menengah dari kerabatnya. Ia kemudian mendaftarkan diri melalui sekolah mitra, yakni SMAN 2 Percut Sei Tuan yang berafiliasi dengan SMAN 3 Medan sebagai sekolah induk. Baginya, ijazah merupakan bekal penting untuk menata masa depan. “Terpenting, kita punya ijazah dulu. Zaman sekarang susah mencari kerja kalau tidak ada ijazah,” tambahnya.

Kembali Sekolah Setelah Sakit 

Keinginan untuk kembali  sekolah juga dirasakan oleh Bagas Bagus Wiliam di Sragen, Jawa Tengah.  Berbeda dengan Najma, Bagas terpaksa tidak melanjutkan sekolah setelah mengalami kecelakaan pada tahun 2024 lalu yang membuatnya lumpuh dan harus menjalani serangkaian pengobatan selama hampir dua tahun.

“Saat mau ujian SMP, saya kecelakaan sepeda motor. Jadi, saya tidak bisa berjalan dan harus operasi sampai empat kali. Untungnya, saya masih bisa mengikuti ujian susulan saat SMP,” ujar Bagas yang merupakan alumni SMPN 1 Gemolong.

Setelah menjalani masa pengobatan, perlahan Bagas mulai bisa berjalan kembali. Namun, akibat kecelakaan tersebut, Bagas tidak mampu untuk duduk terlalu lama. 

“Karena itulah, saya memilih PJJ. Kalau sekolah reguler, saya tidak bisa karena harus duduk lama di kelas. Saya juga malu kalau sekolah reguler muridnya lebih muda dari saya,” Bagas menjelaskan alasannya memilih PJJ Jenjang Pendidikan Menengah di SMAN 1 Kemusu, Boyolali, Jawa Tengah. 

Kini, SPMB PJJ Jenjang Pendidikan Menengah menjadi harapan Bagas untuk kembali belajar. Ia sudah terdaftar sebagai calon murid PJJ di SMAN 1 Kemusu, Boyolali, Jawa Tengah.  Bagas bertekad tidak akan menyia-nyiakan kesempatan keduanya ini.

“Sayakan masih memiliki harapan untuk masa depan. Saya masih ingin bisa melanjutkan hingga kuliah dan cita-cita saya,“ ujarnya penuh optimisme.

Gerakan Mengembalikan Anak Kembali Belajar

Menanggapi hal tersebut, Direktur Jenderal Pendidikan Menengah dan Pendidikan Khusus (Dirjen Dikmen Diksus), Tatang Muttaqin, menyampaikan bahwa selama ini anak tidak sekolah bukan karena tidak ingin belajar. Mayoritas anak tidak sekolah terhenti karena berbagai hambatan, termasuk hambatan struktural yang tidak dapat diselesaikan oleh sistem sekolah konvensional.

Oleh karena itu, SPMB PJJ tidak hanya menjadi mekanisme pendaftaran calon murid Program PJJ Jenjang Pendidikan Menengah, tetapi juga merupakan gerakan untuk mengembalikan anak tidak sekolah (ATS) ke dalam layanan pendidikan.

“SPMB PJJ tidak hanya bersifat pendaftaran, melainkan juga sebuah upaya yang berkesinambungan, mulai dari penjangkauan, menemukan, pendampingan, hingga memahami setiap kebutuhan dan hambatan ATS, serta memastikan ATS kembali aktif belajar dan memiliki kesempatan dan peluang untuk sukses di masa depan,” kata Dirjen Tatang.

Sementara itu, Direktur Pendidikan Khusus dan Pendidikan Layanan Khusus, Saryadi, mengatakan bahwa SPMB PJJ Jenjang Pendidikan Menengah merupakan momentum perubahan paradigma layanan pendidikan dari "menunggu anak datang mendaftar" menjadi "negara hadir menemukan dan mengajak anak kembali belajar".

“Tujuan akhirnya bukan hanya sekadar meningkatkan APS (Angka Partisipasi Sekolah). Tujuan akhirnya adalah setiap anak bisa menyelesaikan pendidikan, mendapatkan pengakuan secara formal, dan melanjutkan kehidupan dengan lebih baik sesuai dengan harapan dan cita-citanya,” ujar Saryadi.

Melalui SPMB PJJ Jenjang Pendidikan Menengah, kesempatan untuk kembali belajar kini terbuka bagi lebih banyak anak tidak sekolah. Bagi anak-anak seperti Najma dan Ridho, program ini menjadi pintu harapan untuk menyelesaikan pendidikan, memperoleh pengakuan secara formal, dan menatap masa depan dengan optimisme.*** (Penulis & Dokumentasi: Tim Setditjen Dikmen Diksus/Editor: Denty A.)


Biro Komunikasi dan Hubungan Masyarakat
Sekretariat Jenderal
Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah

Laman: kemendikdasmen.go.id
X: x.com/Kemdikdasmen
Instagram: instagram.com/kemendikdasmen
Facebook: facebook.com/kemendikdasmen
YouTube: KEMDIKDASMEN
Pertanyaan dan Pengaduan: ult.kemendikdasmen.go.id
Siaran Pers Kemendikdasmen: kemendikdasmen.go.id/pencarian/siaran-pers

#PendidikanBermutuuntukSemua
#KemendikdasmenRamah

Penulis: Kontributor BKHM

Editor: Denty Anugrahmawaty

Berita Terkait