pendidikan_untuk semua Ramah rumah_pendidikan
Temukan informasi tentang Kemendikdasmen, struktur organisasi, dan regulasi
Informasi Profil Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah
Informasi Publik Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah
Temukan kabar, siaran pers, pengumuman, dan dokumentasi resmi dari Kemendikdasmen
Informasi Umum
Beranda
Button Icon
Button Icon
PPID
Button Icon Beranda
Button Icon Profil
Temukan informasi tentang Kemendikdasmen, struktur organisasi, dan regulasi
Button Icon
Button Icon
Button Icon
Button Icon PPID
KBRI Canberra Perkuat Inovasi Program Asisten Pengajar, Dukung Program Bahasa Indonesia di Australia

Diterbitkan pada: 22/04/2026

Bagikan:

Gambar Siaran Pers

Canberra, Kemendikdasmen – KBRI Canberra melalui Atase Pendidikan dan Kebudayaan (Atdikbud) memperkuat pembelajaran Bahasa Indonesia di Australia melalui dua program strategis, yakni Indonesian Teaching Assistant (ITA)/Guru Bantu dan Indonesian Language Teaching Assistant (ILTA). Langkah ini menjadi respons konkret terhadap tantangan menurunnya program Bahasa Indonesia di sejumlah institusi pendidikan di Australia.


Program ITA/Guru Bantu telah dilaksanakan sejak 2023 dengan menugaskan mahasiswa dan dosen Indonesia untuk praktik mengajar di sekolah-sekolah Australia. Program ini melibatkan mahasiswa dari Universitas Pendidikan Indonesia (UPI), Universitas Negeri Jakarta (UNJ), Universitas Negeri Surabaya (UNESA), Universitas Negeri Semarang (UNNES), Universitas Muhammadiyah Prof. DR. HAMKA (UHAMKA), dan Universitas Pendidikan Ganesha (Undiksha) yang ditempatkan di berbagai sekolah di ACT, Victoria, dan Queensland, termasuk Trinity Christian School, St. Clare of Assisi, Canberra Islamic School, Huntingtower School, dan Agnes Water School. 


Sementara itu, program ILTA dikembangkan melalui kerja sama dengan Education Directorate di Canberra untuk memperkuat pembelajaran Bahasa Indonesia di sekolah publik. Pada tahun 2026, sekitar 10 asisten pengajar ditempatkan di sejumlah sekolah di ACT, seperti Majura Primary School, Lyneham High School, Curtin Primary School, dan Chapman Primary School. 


Atase Pendidikan dan Kebudayaan KBRI Canberra, Yuli Rahmawati, menegaskan bahwa kedua program ini merupakan bagian dari strategi kebijakan yang lebih luas. “Kami tidak hanya fokus pada penguatan di kelas melalui ITA dan ILTA, tetapi juga membangun ekosistem pembelajaran Bahasa Indonesia secara menyeluruh melalui berbagai program kolaboratif,” ujarnya (21/4/2026).


Ekosistem Program Bahasa Indonesia
Selain ITA dan ILTA, KBRI Canberra juga menjalankan berbagai program pendukung untuk memperkuat keberlanjutan Bahasa Indonesia di Australia, antara lain:
•    Indonesia Goes to Schools (IGTS): program kunjungan ke sekolah untuk memperkenalkan Bahasa dan budaya Indonesia melalui workshop interaktif dan pertunjukan budaya. 
•    School Visits: kunjungan siswa Australia ke KBRI atau pusat budaya untuk pengalaman langsung mengenal Indonesia. 
•    Australian Congress for Indonesian Language: forum nasional yang mempertemukan akademisi, guru, dan pemangku kepentingan dalam merumuskan strategi penguatan Bahasa Indonesia. 
•    Community Language Program: kelas Bahasa Indonesia bagi masyarakat umum (dewasa dan anak-anak) yang dilaksanakan secara rutin. 
•    Pemutaran Film Indonesia: pemanfaatan film sebagai media pembelajaran bahasa dan budaya. 
•    Kegiatan budaya dan edukasi lainnya: seminar, workshop, dan kolaborasi dengan sekolah serta universitas.

 
KBRI Canberra juga mendukung program Indonesian Language Learning Ambassadors (ILLA) yang dilaksanakan oleh Australia Awards. Program ini melibatkan pelajar Australia sebagai duta pembelajar Bahasa Indonesia yang berperan dalam mempromosikan Bahasa Indonesia di lingkungan sekolah dan komunitasnya.


Kolaborasi sebagai Kunci

Berbagai program tersebut menunjukkan pendekatan komprehensif dalam membangun ekosistem pembelajaran Bahasa Indonesia yang berkelanjutan. “Pendekatan ini menggabungkan penguatan pembelajaran di kelas, pengalaman budaya, serta keterlibatan pelajar sebagai duta bahasa. Ini menjadi strategi penting untuk menjaga keberlanjutan Bahasa Indonesia di Australia,” tambah Yuli.


Sejak 2023, program ITA telah melibatkan puluhan mahasiswa dari berbagai universitas di Indonesia dan menjangkau banyak sekolah di Australia. Ke depan, KBRI Canberra menargetkan peningkatan jumlah peserta menjadi 46 Guru Bantu pada tahun 2026, serta perluasan cakupan program ke berbagai negara bagian.


Melalui berbagai inisiatif ini, KBRI Canberra menegaskan komitmennya dalam memperkuat diplomasi pendidikan Indonesia sekaligus memastikan Bahasa Indonesia tetap relevan dan berkembang di tengah dinamika pendidikan global. (Atdikbud Canberra / Editor: Stephanie, Denty)

Penulis: Kontributor BKHM

Editor: Denty Anugrahmawaty

Berita Terkait