Diterbitkan pada: 09/03/2026
Kemendikdasmen, 9 Maret, 2026 - Di timur Indonesia, tepatnya di kota Jayapura yang mempesona, seorang remaja berdiri di atas panggung dengan suara yang bergetar, bukan karena takut, melainkan karena haru. Namanya Jean Evanz Diana Manobi, akrab disapa Eva. Siswi SMA Negeri 4 Jayapura ini menorehkan prestasi membanggakan sebagai peraih medali perunggu cabang ajang Menyanyi Solo Festival Lomba Seni dan Sastra Siswa Nasional (FLS3N) 2025. Lahir di Jayapura, 6 Maret 2008, Eva menceritakan awal perjalanan prestasinya. Ia mengaku mulai menunjukkan minat pada dunia tarik suara sejak duduk di bangku sekolah dasar. Lingkungan keluarga yang gemar bernyanyi menjadi ruang awal tumbuh kecintaan terhadap seni musik. Kesungguhannya dimulai saat ia mengikuti lomba menyanyi dalam peringatan hari ulang tahun SMA Negeri 4 Jayapura, saat itu ia masih duduk di kelas III SMP. Tak disangka, ia berhasil meraih Juara II dan memperoleh tiket masuk sekolah tersebut. Sejak saat itu, Eva aktif mengikuti berbagai lomba menyanyi di tingkat kota, termasuk ajang Bintang Radio dan kompetisi yang diselenggarakan perguruan tinggi setempat. “Awalnya saya memang suka bernyanyi sejak SD hingga SMP, waktu saya SMP kelas III saya pertama kali mengikuti lomba nyanyi dalam memperingati HUT SMA Negeri 4 Jayapura, dan puji Tuhan saya mendapatkan Juara II dan mendapatkan tiket masuk SMA Negeri 4 Jayapura,” ucap Eva. Memasuki kelas XI, guru pembimbingnya mendorong Eva untuk mengikuti seleksi FLS3N 2025. Ia mengaku baru mengenal FLS3N ketika duduk di kelas XI. “Jujur saya sebelumnya belum tahu apa itu FLS3N,” ungkapnya. Bersama tiga temannya, ia mengikuti seleksi tingkat kota. Hasilnya, ia dan seorang rekannya, Josua, terpilih sebagai juara pertama dan berhak melaju ke tingkat provinsi Papua. Tantangan Menuju Nasional, Mengatasi Keterbatasan dengan Kreativitas Saat itu, seleksi provinsi dilakukan secara daring melalui pengiriman rekaman video. Di sinilah tantangan muncul. Persyaratan teknis mengharuskan penggunaan kamera berkualitas baik. Eva tak memiliki kamera profesional. Ia merekam penampilannya menggunakan telepon genggam miliknya. “Sedikit cerita, waktu saya seleksi tingkat provinsi saya mengalami kendala pada saat perekaman video nyanyi yang harus menggunakan kamera yang bagus, tetapi saya tetap berusaha dan saya melakukan perekaman pakai HP saya sendiri yang kameranya tidak begitu bagus,” kenang Eva. Kendala lain muncul saat menyiapkan aransemen lagu daerah pilihannya. Beruntung, sang kakak yang piawai bermain musik membantu membuatkan iringan menggunakan keyboard. Sederhana, tetapi penuh ketulusan. “Puji Tuhan saya mempunyai kakak laki-laki yang bisa bermain musik, akhirnya dia membantu saya dalam membuat musik pilihan saya dengan menggunakan keyboard dan dengan inisiatifnya dia membuat musik itu begitu bagus,” tuturnya. Dari tingkat kota hingga provinsi, ia menunjukkan performa konsisten dan terpilih sebagai wakil Provinsi Papua ke tingkat nasional. Di tingkat nasional, Eva menghadapi ratusan peserta dari seluruh Indonesia. Momen yang paling ia ingat adalah saat pengambilan nomor undian untuk tampil. Ia mendapatkan nomor empat. “Saya sempat kaget dan tidak mau nomor itu,” katanya jujur. Namun, ia memilih berdamai dengan keadaan. Ia menyanyikan lagu wajib dan lagu pilihan dengan sepenuh hati. Latihan bersama guru pembimbingnya, Mama Trias, menjadi fondasi penting. Mereka memulai dari pengenalan lagu, penghafalan lirik, hingga melatih improvisasi. Saat pengumuman pemenang FLS3N, ia sama sekali tidak berharap namanya disebut. Namun, takdir berkata lain. Eva dinyatakan sebagai peraih medali perunggu cabang ajang Menyanyi Solo FLS3N Jenjang Pendidikan Menengah 2025. “Disitu saya sangat terharu sekali karena saya tidak menyangka bahwa saya akan juara 3, sedih bahagia pokoknya semua campur aduk,” ungkap Eva penuh haru. Perjalanan Eva hingga di titik ini tentulah tak terlepas dari dukungan orang-orang terdekatnya. Eva berasal dari keluarga pelayan gereja. Ayah dan ibunya adalah gembala jemaat, dan sang ayah juga menjabat sebagai Ketua Sinode Gereja Bethel Injili Papua. Meski tidak memiliki pekerjaan formal, kedua orang tuanya menjadi sumber kekuatan terbesar bagi Eva. Dukungan keluarga, sekolah, guru, dan sahabat-sahabatnya menjadi penopang perjalanan prestasinya. Di masa depan, Eva mengaku belum memiliki rencana terperinci. Namun satu hal pasti: ia ingin terus mengembangkan bakat menyanyinya. “Saya ingin jadi artis penyanyi. Itu rencana saya. Tapi saya juga percaya rencana Tuhan pasti yang terbaik,” katanya. Di usianya yang baru 17 tahun, Eva telah membuktikan bahwa keterbatasan fasilitas bukan penghalang untuk bersinar. Dari rekaman sederhana menggunakan telepon genggam hingga panggung nasional, ia menunjukkan bahwa ketekunan dan konsistensi mampu menembus batas. Di akhir ceritanya, Eva berpesan kepada Sobat Prestasi. “Yang pertama andalkan Tuhan dalam segala hal yang akan kalian jalani, karena Not by my strength, but by God. Tetap berusaha bersama Tuhan dan jangan menyerah dalam segala hal yang engkau hadapi,” pesannya. Dalam kesempatan ini, Kepala Pusat Prestasi Nasional, Maria Veronica Irene Herdjiono, mengatakan bahwa Kemendikdasmen melalui Puspresnas terus menjangkau talenta dari seluruh daerah melalui sistem seleksi berjenjang dari sekolah hingga tingkat nasional. “Selaras dengan visi Pendidikan Bermutu untuk Semua bahwa murid mendapatkan kesempatan dan akses untuk bisa mengaktualisasikan talentanya. Semua murid dapat berprestasi,” jelasnya.*** (Penulis & Dokumentasi: Tim Puspresnas/Editor: Destya) Biro Komunikasi dan Hubungan Masyarakat Sekretariat Jenderal Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah Laman: kemendikdasmen.go.id X: x.com/Kemdikdasmen Instagram: instagram.com/kemendikdasmen Facebook: facebook.com/kemendikdasmen YouTube: KEMDIKDASMEN Pertanyaan dan Pengaduan: ult.kemendikdasmen.go.id Berita Kemendikdasmen: kemendikdasmen.go.id/pencarian/berita #PendidikanBermutuuntukSemua #KemendikdasmenRamah
Penulis: Kontributor BKHM
Editor: Denty Anugrahmawaty