Jakarta, 7 Oktober 2026 – Kementerian Pendidikan dan Menengah (Kemendikdasmen) mendorong pelajar untuk mengenal kecerdasan artifisial atau Artificial Intelligence (AI) serta memanfaatkannya secara bijak dan bertanggung jawab melalui penyelenggaraan Science Film Festival 2026. Festival yang diinisiasi Goethe-Institut tersebut resmi dibuka di Jakarta, Selasa (6/10).
Staf Khusus Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Bidang Peningkatan Science, Technology, Engineering, and Mathematics (STEM) dan Kompetensi Guru, Maila Dinia Husni Rahiem, yang membawa salam dari Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Abdul Mu'ti, menyampaikan bahwa Science Film Festival relevan dengan Program STEM Nasional “Berani Mencoba, Kreatif Mencipta” yang dikembangkan Kemendikdasmen. Menurutnya, film dan eksperimen dalam festival dapat memberikan ide kreatif kepada pelajar untuk mencoba dan mengembangkan hal-hal yang mereka lihat selama kegiatan. “Jadi ini adalah suatu kegiatan yang saya pikir membuka atau sparkling ya, dari ide-ide cemerlang dari anak-anak Indonesia,” ujarnya.
Maila menjelaskan, melalui pendekatan STEM, guru didorong untuk menghubungkan pembelajaran dengan persoalan nyata sehingga peserta didik dapat menyelidiki pertanyaan, melakukan eksperimen, serta merancang, menguji, dan memperbaiki solusi. Pembelajaran STEM di sekolah juga dikembangkan dengan prinsip 5M, yaitu mudah, murah, menggembirakan, mindful, dan meaningful. Ia mengajak pelajar membawa pertanyaan yang muncul selama festival kembali ke sekolah untuk didiskusikan bersama teman, mencoba hal-hal yang dipelajari, dan membagikan temuannya. “Oleh karena itu, bawalah pertanyaan-pertanyaan kalian selama mengikuti festival ini, kemudian bawa kembali pertanyaan tersebut ke sekolah.” ujarnya.
Direktur Goethe-Institut untuk kawasan Asia Tenggara, Australia, dan Selandia Baru, Constanze Michel, menjelaskan bahwa AI kini semakin memengaruhi industri, perekonomian, pendidikan, dan kehidupan sehari-hari. Teknologi ini juga semakin dimanfaatkan dalam bidang sains, perlindungan lingkungan, dan upaya membangun dunia yang lebih berkelanjutan. Namun, peluang tersebut juga disertai tantangan, termasuk terkait penggunaan data, transparansi, keadilan, serta dampak lingkungan akibat kebutuhan energi dalam komputasi berskala besar.
Constanze mengajak pelajar mengeksplorasi pemanfaatan AI melalui film dan kegiatan festival, sekaligus memikirkan bagaimana teknologi tersebut dapat digunakan secara bertanggung jawab untuk membantu menjawab berbagai tantangan global.
Duta Besar Republik Federal Jerman untuk Indonesia, Ralf Beste, turut mengingatkan pentingnya berpikir kritis dalam menggunakan AI. Menurutnya, teknologi tersebut dapat membantu manusia dalam berkomunikasi, belajar, bekerja, dan menjalani kehidupan sehari-hari, tetapi juga dapat memberikan informasi keliru dan digunakan untuk memanipulasi. Karena itu, pengguna perlu melihat lebih kritis informasi yang diterima dan membedakan mana yang nyata, hasil rekayasa, maupun manipulasi. “We try to think. We try not to be naive. We think critically,” pesan Duta Besar Ralf.
Science Film Festival 2026 merupakan penyelenggaraan ke-17 di Indonesia. Festival berlangsung secara hybrid pada 6 Oktober hingga 14 November 2026 dan menjangkau pelajar jenjang sekolah dasar hingga sekolah menengah atas di 70 kabupaten/kota. Tahun ini, festival menghadirkan 20 film sains dari tujuh negara serta berbagai eksperimen yang mengajak peserta belajar sains dengan cara yang menyenangkan.
Salah satu peserta, Tubagus Muhammad Nazril Ardari, murid SMA Negeri 3 Pandeglang, mengaku memperoleh banyak informasi baru mengenai AI setelah mengikuti festival. Ia mengetahui lebih jauh tentang cara kerja ChatGPT dan AI lainnya, termasuk manfaat sekaligus potensi kerugiannya. Nazril juga mengatakan pengalaman tersebut membuatnya lebih bijak dalam menggunakan AI. “Banyak informasi baru, Kak, yang saya ketahui karena melihat video itu,” kata Nazril antusias.
Melalui Science Film Festival 2026, Kemendikdasmen bersama Goethe-Institut dan para mitra berharap pelajar semakin memiliki rasa ingin tahu, keberanian untuk mencoba, kreativitas, dan kemampuan berpikir kritis. Dengan demikian, pengenalan AI tidak berhenti pada pemahaman mengenai teknologi, tetapi juga mendorong generasi muda untuk menggunakan teknologi secara bertanggung jawab serta mampu menilai informasi yang mereka terima secara kritis..*** (Penulis & Dokumentasi: Tim Goethe-Institut/Editor: Rany, Ririn)
Biro Komunikasi dan Hubungan Masyarakat
Sekretariat Jenderal
Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah
Laman: kemendikdasmen.go.id
X: x.com/Kemdikdasmen
Instagram: instagram.com/kemendikdasmen
Facebook: facebook.com/kemendikdasmen
YouTube: KEMDIKDASMEN
Pertanyaan dan Pengaduan: ult.kemendikdasmen.go.id
Siaran Pers Kemendikdasmen: kemendikdasmen.go.id/pencarian/siaran-pers
#PendidikanBermutuuntukSemua
#KemendikdasmenRamah