Gowa, Sulawesi Selatan, Kemendikdasmen — Botol plastik bekas dan kain perca yang sebelumnya dianggap tidak terpakai kini menemukan fungsi baru di Sekolah Nasional Terintegrasi (SNT) 9 Gowa, Sulawesi Selatan. Melalui kegiatan kokurikuler hidroponik yang dimulai sejak 14 September 2026, murid belajar menanam sekaligus mengamati, mengukur, mencatat, merancang, dan mencari solusiketika tanaman menghadapi masalah.
Kegiatan ini menjadi bagian dari upaya SNT 9 Gowa membangun budaya belajar berbasis praktik dan pendekatan Science, Technology, Engineering, Arts, Mathematics, and Sports (STEAMS). Pengalaman tersebut juga sejalan dengan penguatan fondasi pendidikan dasar yang dilakukan Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen).
Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen), Abdul Mu’ti, menegaskan pentingnya fondasi pendidikan dasar. “Pak Presiden menyampaikan ke saya tentang arti pentingnya pendidikan dasar ini. Karena sebagaimana kita membangun sebuah rumah, pendidikan dasar ini adalah fondasi untuk pendidikan yang selanjutnya. Karena itu kami berusaha untuk tahun pertama ini meletakkan dasar-dasar yang kuat dalam mewujudkan pendidikan yang bermutu untuk semua,” jelas Abdul Mu’ti di Jakarta, beberapa waktu lalu.
Kepala SNT 9 Gowa, M. Sahrul, menjelaskan bahwa hidroponik saat ini masih menjadi kegiatan kokurikuler praktik dan belum sepenuhnya terintegrasi dalam pembelajaran STEAMS. Namun, kegiatan ini menjadi ruang untuk menumbuhkan kebiasaan belajar yang penting. “Melalui hidroponik, anak-anak belajar disiplin merawat, observasi pertumbuhan, tanggung jawab piket siram dan cek nutrisi,” ujar Sahrul melalui keterangan tertulis pada Kamis, 1 Oktober 2026.
Guru SNT 9 Gowa, Rini Karsini, mengatakan praktik tersebut lahir dari semangat “Sekolahku Bersih, Prestasi Kuraih”. Murid diajak memanfaatkan benda sederhana di sekitar sekolah menjadi media belajar produktif. “Kalau ngomongin unsur STEAMS, sebenarnya itu melekat banget di setiap prosesnya,” kata Rini.
Science hadir ketika murid mempelajari fotosintesis, nutrisi, dan pH air. Technology dan Engineering muncul saat mereka menggunakan pH meter serta merakit sistem sumbu dari botol bekas. Art terlihatdalam penataan kebun, sedangkan Mathematics digunakan untuk mengukur tinggi tanaman, jumlah daun, dan tingkat pH, kemudian menyajikannya dalam tabel dan grafik.
Bagi Alula Farzana Ayunindya, murid kelas VII.A, praktik tersebut membuat konsep yang sebelumnya terasa abstrak menjadi lebih dekat. “Pelajaran IPA tentang bagian tumbuhan samafotosintesis yang tadinya cuma dibaca di buku, jadi gampang banget dimengerti pas kami nyampur nutrisi AB Mix terus lihat tanaman kami tumbuh,” jelasnya.
Pembelajaran juga tidak berhenti ketika tanaman tumbuh. Saat sumbu tidak bekerja optimal, daunlayu, lumut muncul, atau selang tersumbat, murid diajak mencari penyebab dan mencoba solusi. “Kami gak panik, biasanya kami diskusi bareng teman sekelompok, baca lagi petunjuk di LKPD, tanya ke guru, terus bagi tugas,” ungkap Alula.
Menurut Rini, situasi tersebut menjadi kesempatan bagi murid mengembangkan kemampuan memecahkan masalah, bekerja sama, bertanggung jawab, dan teliti. Guru berperan sebagai fasilitator yang membantu murid membaca persoalan dan menemukan solusi.
Perubahan juga terlihat dalam keseharian sekolah. Sahrul mengatakan murid kini datang lebih pagiuntuk mengecek tanaman sebelum masuk kelas. “Perubahan paling jelas adalah rasa memiliki terhadap sekolah,” ujarnya.
Setelah hidroponik, SNT 9 Gowa menyiapkan proyek Smart Trash Bin untuk murid kelas VII pada Oktober 2026. Proyek ini akan menggunakan Engineering Design Process, mikro kontroler Arduino atau micro, sensor jarak, dan motor servo untuk membuat tempat sampah yang dapat membuka tutupsecara otomatis. Bagi Alula, proyek itu sudah dinanti teman-temannya. “Yang paling ditunggu-tunggu sama anak-anak sekelas itu serunya pas nanti ngerakit tutup tempat sampah bisa buka sendiri tanpa disentuh,” katanya.
Sahrul berharap rangkaian proyek tersebut membentuk murid yang mampu melihat persoalan di lingkungan sekitar dan merancang penyelesaiannya. “Kami ingin murid SNT 9 Gowa menjadi problem solver yang berakar dari masalah lokal, tapi mampu berpikir dengan cara kerja teknologi global,” ujarnya.*** (Penulis: Rany/Editor: Denty/Dokumentasi: Tim SNT 9 Gowa)
Biro Komunikasi dan Hubungan Masyarakat
Sekretariat Jenderal
Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah
Laman: kemendikdasmen.go.id
X: x.com/Kemdikdasmen
Instagram: instagram.com/kemendikdasmen
Facebook: facebook.com/kemendikdasmen
YouTube: KEMDIKDASMEN
Pertanyaan dan Pengaduan: ult.kemendikdasmen.go.id
Siaran Pers Kemendikdasmen: kemendikdasmen.go.id/pencarian/siaran-pers
#PendidikanBermutuuntukSemua
#KemendikdasmenRamah