Published on: 16/07/2026
Jakarta, Kemendikdasmen – Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen), Abdul Mu’ti, menegaskan pentingnya peran satuan pendidikan sebagai ruang yang menumbuhkan sikap saling menghormati di tengah keberagaman masyarakat Indonesia. Menurutnya, sekolah bukan hanya tempat belajar, tetapi juga menjadi ruang perjumpaan dan pembentukan karakter bagi murid dari berbagai latar belakang. Hal tersebut disampaikan Mendikdasmen saat menghadiri peringatan Hari Ulang Tahun ke-26 Indonesian Conference on Religion and Peace (ICRP) sekaligus peluncuran ICRP TV bertema “Merawat Keberagaman, Mewariskan Peradaban” di Jakarta, Selasa (14/7). Dalam dialog yang disiarkan melalui ICRP TV, Mendikdasmen menyampaikan bahwa sekolah merupakan meeting point dan melting point bagi murid dari berbagai latar belakang, termasuk agama dan keyakinan. Melalui interaksi sehari-hari di sekolah, murid belajar saling mengenal, memahami, serta menghormati perbedaan sekaligus memperkuat jati diri sebagai bangsa Indonesia. “Kita punya prinsip pendidikan yang inklusif dan berkeadilan. Di sini kita melihat sekolah sebagai tempat terjadinya meeting point, di mana anak-anak sejak awal sudah mengenal keragaman itu. Kemudian, melting point, di mana kita membentuk sikap dan jiwa keindonesiaannya. Tapi tetap berpegang pada nilai-nilai dasar kebangsaan Indonesia, Pancasila, UUD 1945, dan juga nilai-nilai budaya yang merupakan kekayaan bangsa Indonesia,” tutur Mendikdasmen. Selain itu, Mendikdasmen juga menjelaskan upaya pemerintah dalam memperluas akses layanan pendidikan agar dapat menjangkau seluruh lapisan masyarakat. Melalui Direktorat Pendidikan Nonformal dan Pendidikan Informal, Kemendikdasmen mengembangkan berbagai model layanan yang memberikan kesempatan belajar bagi masyarakat sesuai dengan kebutuhan dan kondisi masing-masing. Lima model layanan tersebut meliputi 1) pendidikan kesetaraan melalui Program Paket A, Paket B, dan Paket C; 2) Pembelajaran Jarak Jauh (distance learning) yang didukung jaringan internet; 3) Sekolah Satu Atap yang menggabungkan beberapa jenjang di satu bangunan sekolah; 4) layanan komunitas belajar seperti homeschooling; serta 5) Sekolah Terbuka yang memberikan akses pendidikan lebih luas kepada masyarakat. Dalam kesempatan yang sama, Dewan Pendiri ICRP, Musdah Mulia, turut menambahkan bahwa pendidikan agama tidak hanya sekadar pada pembelajaran secara simbolik, tetapi juga pada belajar membangun karakter dan perilaku yang sungguh-sungguh mengedepankan nilai-nilai spiritual. Peringatan HUT ke-26 ICRP turut dirangkaikan dengan pemotongan pita dan penandatanganan prasasti sebagai simbol peluncuran ICRP TV. Dialog tersebut juga menghadirkan Dewan Pendiri ICRP Musdah Mulia serta perwakilan komunitas penghayat kepercayaan Sunda Wiwitan. (Rahman / Editor: Stephanie)