Temukan informasi detail tentang Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah
Informasi Publik Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah
Temukan kabar, siaran pers, pengumuman, dan dokumentasi resmi dari Kemendikdasmen
Berangkat dari Masalah di Sekitar, Murid Sumba Timur dan Denpasar Raih Juara 1 FIKSI 2026

Singaraja, Bali, 17 Oktober 2026 — Bagi Carli Mayos Talan, murid kelas XII SMK Negeri 1 Pandawai, Sumba Timur, Nusa Tenggara Timur (NTT), inspirasi justru datang dari aktivitas nelayan di Pantai Palakahembi. Sementara itu, bagi Putu Aditya Kusuma Wibawa dan I Ketut Bagus Pramana Putra, murid kelas XII SMA Negeri 4 Denpasar, Bali, peluang usaha ditemukan dari limbah canang yang dekat dengan kehidupan masyarakat setempat.

Atas inovasi tersebut, mereka berhasil meraih Juara 1 Festival Inovasi dan Kewirausahaan Murid Indonesia (FIKSI) 2026 pada kategori yang berbeda. Carli meraih Juara 1 Kategori Rencana Usaha pada bidang Ajang Agribisnis, Agroteknologi, dan Kemaritiman, Putu Aditya Kusuma Wibawa dan I Ketut Bagus Pramana Putra, meraih Juara 1 Kategori Pengembangan Usaha pada bidang Ajang Kesehatan, Kecantikan, dan Perawatan Diri.

Bagi Carli, gagasan NETGREEN bermula dari pengamatannya terhadap persoalan yang dihadapi nelayan di Pantai Palakahembi. Jaring Trammel Net berwarna putih yang biasa digunakan nelayan dinilai terlalu mencolok di perairan dangkal dan padang lamun. Kondisi tersebut membuat ikan dan udang lebih mudah mengenali jaring sehingga peluang tangkapan berkurang. “Dari masalah itu lahir NETGREEN, pewarna alami ramah lingkungan dari ekstrak daun jati untuk kamuflase agar hasil tangkap dan pendapatan nelayan meningkat,” ujar Carli.

Melalui NETGREEN, Carli memanfaatkan daun jati yang tersedia di lingkungan setempat sebagai bahan dasar pewarna jaring. Kandungan tanin dan senyawa fenolik dalam daun jati dimanfaatkan untuk menghasilkan warna cokelat kehijauan yang menyerupai warna lamun. Produk ini dirancang tidak hanya untuk membantu menyamarkan jaring, tetapi juga mendukung perawatan alat tangkap melalui pemanfaatan bahan alami.

Perjalanan mengembangkan produk tersebut tidak selalu berjalan mulus. Carli harus menemukan cara agar warna dari ekstrak daun jati dapat melekat kuat pada jaring berbahan nilon dan bertahan ketika digunakan di air asin. Pada percobaan awal, warna mudah luntur setelah satu hingga dua kali melaut. Ia bersama timnya bahkan mengalami empat kali kegagalan sebelum mencoba teknik fiksasi menggunakan tawas dan kapur sirih.

Pengalaman itu menjadi bagian penting dari proses belajar Carli. Ia tidak berhenti pada gagasan awal, tetapi berusaha memperbaiki formulasi hingga menemukan pendekatan yang dinilai lebih sesuai dengan kebutuhan nelayan.

Guru pendamping SMK Negeri 1 Pandawai, Fauziah Arbi Abdulah, menjelaskan bahwa proses pembinaan dimulai dengan mengajak murid melihat langsung kondisi di lapangan. Mereka melakukan observasi sejak pukul 05.00 WITA, ketika nelayan bersiap melaut, agar murid memahami persoalan yang benar-benar dihadapi masyarakat. “Pendampingan berbasis masalah nyata di Palakahembi. Saya ajak murid melakukan observasi saat nelayan turun melaut, melihat langsung jaring putih yang kontras di lamun,” tutur Fauziah.

Menurutnya, NETGREEN menjadi contoh bahwa pembelajaran kejuruan dapat terhubung dengan kebutuhan masyarakat. Murid tidak hanya mengembangkan kompetensi pemeliharaan alat tangkap dalam bidang Nautika Kapal Penangkapan Ikan, tetapi juga belajar meneliti bahan alami, mengembangkan produk, dan menyusun rencana usaha.

Setelah meraih juara, Carli berencana memperkenalkan NETGREEN kepada kelompok usaha bersama (KUB) nelayan di Desa Palakahembi melalui sosialisasi dan demonstrasi di tempat pelelangan ikan. Ia juga merancang harga NETGREEN kit Rp750.000 dan kapasitas empat hingga lima jaring. Kerja sama dengan penyuluh perikanan dan koperasi nelayan menjadi bagian dari rencana pengembangan usaha tersebut.

Semangat serupa terlihat pada tim SMA Negeri 4 Denpasar yang mengembangkan produk Roll On Inhaler 2-in-1. Berangkat dari kepedulian terhadap persoalan limbah organik di Bali dan ketertarikan pada pengobatan tradisional, mereka berupaya menghadirkan produk kesehatan modern yang memanfaatkan potensi lokal.

Putu Aditya Kusuma Wibawa menjelaskan bahwa timnya mengangkat pengetahuan pengobatan tradisional Bali yang tercatat dalam Lontar Usada Bali sebagai salah satu rujukan pengembangan formulasi produk. Gagasan itu kemudian dipadukan dengan pemanfaatan bahan dari limbah canang, sehingga memiliki nilai tambah sekaligus membawa unsur budaya Bali ke dalam produk yang lebih praktis.

“Kami mengangkat warisan budaya turun-temurun dari leluhur Bali melalui keterlibatan Balai Bahasa Provinsi Bali dalam kajian Lontar Usada Bali. Provinsi Bali, untuk formulasi produk kami. Kami ingin mengubah pengetahuan tradisional menjadi produk modern yang praktis,” kata Putu Aditya.

Produk tersebut dirancang dengan dua fungsi dalam satu kemasan. Bagian atas digunakan sebagai inhaler, sedangkan bagian bawah berupa roll-on untuk membantu relaksasi. Tim juga melengkapi produk dengan kode QR yang terhubung ke laman informasi, chatbot berbasis kecerdasan artifisial (AI), serta fitur augmented reality untuk memberikan pengalaman edukasi tiga dimensi kepada konsumen.

Bagi tim ini, inovasi tidak berhenti pada pengembangan produk. Mereka juga berupaya membangun usaha yang melibatkan masyarakat lokal. Guru pendamping SMA Negeri 4 Denpasar, Komang Adi, menyampaikan bahwa pengembangan usaha tersebut membuka peluang kolaborasi dengan berbagai pihak, termasuk pengepul minyak kelapa tradisional, masyarakat yang mengumpulkan bahan dari pura, serta penyedia layanan pijat tunanetra.

“Keunggulan inovasi murid kami ialah pemanfaatan limbah organik, khususnya limbah canang, menjadi produk yang memiliki nilai guna. Mereka juga mendasarkan pengembangan produk pada pengetahuan tradisional Bali dan membangun usaha yang melibatkan masyarakat lokal,” ujar Komang.

Di balik pengembangan produk, Putu Aditya dan I Ketut Bagus Pramana Putra juga belajar mengelola waktu di tengah kesibukan sebagai murid kelas XII. Persiapan pembelajaran dan kebutuhan menghadapi kelulusan tetap harus berjalan, sementara usaha yang mereka bangun membutuhkan perhatian, mulai dari pengelolaan operasional hingga kerja sama dengan mitra.

Kini, usaha mereka telah memiliki standar operasional prosedur (SOP), jadwal inventarisasi stok, serta sistem konsinyasi di sejumlah gerai. Setelah meraih juara FIKSI 2026, mereka berencana memperluas pasar dan mengajak adik kelas serta teman sebaya untuk terlibat dalam pengembangan usaha agar bisnis tersebut dapat terus berjalan.

Komang menilai pengalaman mengikuti FIKSI turut mengasah keberanian murid untuk membangun jejaring, melakukan pemasaran, menghitung keuntungan, serta melakukan riset untuk mengembangkan produk. Ia berharap sekolah dapat terus menjadi ruang yang mendukung murid dalam menguji gagasan dan mengembangkan inovasi.

Dua cerita tersebut memperlihatkan bahwa kewirausahaan di lingkungan pendidikan bukan semata-mata tentang menghasilkan produk atau memenangkan kompetisi. Prosesnya juga mengajarkan murid untuk peka terhadap persoalan di sekitarnya, berani mencoba, belajar dari kegagalan, dan bekerja sama untuk menghadirkan solusi.

Melalui FIKSI 2026, gagasan yang berangkat dari kebutuhan nelayan di Sumba Timur dan potensi budaya serta lingkungan di Denpasar mendapatkan ruang untuk berkembang menjadi rencana usaha dan bisnis yang lebih terarah. Pengalaman tersebut menjadi bekal bagi para murid untuk terus berinovasi, sekaligus menunjukkan bahwa potensi lokal dapat menjadi sumber pembelajaran dan peluang kewirausahaan bagi generasi muda. ***(Penulis: Shaka, Editor: Rona Uly, Seno Hartono/Fotografer: Tim Puspresnas) 

 

Biro Komunikasi dan Hubungan Masyarakat
Sekretariat Jenderal
Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah
 
Laman: kemendikdasmen.go.id
X: x.com/Kemdikdasmen
Instagram: instagram.com/kemendikdasmen
Facebook: facebook.com/kemendikdasmen
YouTube: KEMDIKDASMEN
Pertanyaan dan Pengaduan: ult.kemendikdasmen.go.id
Siaran Pers Kemendikdasmen: kemendikdasmen.go.id/pencarian/siaran-pers
 
#PendidikanBermutuuntukSemua
#KemendikdasmenRamah