Pendidikan Friendly rumah_pendidikan
Temukan informasi tentang Kemendikdasmen, struktur organisasi, dan regulasi
Informasi Profil Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah
Informasi Publik Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah
Temukan kabar, siaran pers, pengumuman, dan dokumentasi resmi dari Kemendikdasmen
Informasi Umum
Beranda
Button Icon
Button Icon
PPID
Button Icon Beranda
Button Icon Profil
Temukan informasi tentang Kemendikdasmen, struktur organisasi, dan regulasi
Button Icon
Button Icon
Button Icon
Button Icon PPID
Karya Sastra Menguatkan Karakter Generasi dan Kedaulatan Bahasa Indonesia di Pentas Dunia

Diterbitkan pada: 26/06/2026

Bagikan

Gambar Siaran Pers

Banda Aceh, Kemendikdasmen – Di tengah derasnya arus teknologi dan kecerdasan buatan yang mengubah cara manusia belajar dan berinteraksi, karya sastra tetap memiliki tempat yang tak tergantikan. Melalui sastra, generasi muda belajar memahami kehidupan, merawat empati, sekaligus membangun karakter. Lebih dari itu, sastra juga menjadi kekuatan yang menjaga martabat Bahasa Indonesia agar semakin diakui di tingkat dunia.

Pesan tersebut disampaikan Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen) Abdul Mu’ti, saat membuka Pertemuan Penyair Nusantara (PPN) XIV di Gedung Lembaga Wali Nanggroe, Banda Aceh, beberapa waktu lalu. Menurutnya, kehadiran ratusan penyair dari berbagai negara membuktikan bahwa karya sastra Indonesia memiliki daya hidup yang mampu melintasi batas-batas geografis dan budaya.

"PPN ke-14 menjadi ruang penting bagi penyair nusantara dan mancanegara untuk memperkuat jejaring sastra dan membangun kolaborasi kebudayaan lintas negara. Antusias peserta dari 14 negara menunjukkan bahwa karya sastra Indonesia terus menjadi bagian penting dari dunia kesusastraan dan budaya dunia," ujar Abdul Mu’ti.

Aceh dipilih sebagai tuan rumah bukan tanpa alasan. Daerah yang dikenal sebagai Serambi Mekkah ini memiliki jejak panjang sebagai pusat intelektualitas dan perkembangan sastra Melayu Nusantara. Pertemuan ini menjadi ruang yang mempertemukan warisan budaya dengan tantangan kesusastraan di era digital.

Bagi Abdul Mu’ti, pendidikan yang bermutu tidak cukup hanya menghasilkan capaian akademik. Pendidikan juga harus membentuk kepekaan sosial, imajinasi, dan karakter peserta didik. Karya sastra menghadirkan ruang refleksi yang membantu murid memahami keberagaman, menghargai perbedaan, serta menumbuhkan nilai-nilai kemanusiaan yang menjadi fondasi kehidupan bersama.

Pada saat yang sama, sastra juga berperan memperkuat posisi Bahasa Indonesia di kancah internasional. Menteri Mu'ti mengajak masyarakat terus menghidupkan konsep Trigatra Bangun Bahasa, yaitu mengutamakan Bahasa Indonesia, melestarikan bahasa daerah, dan menguasai bahasa asing. Pengakuan Bahasa Indonesia di forum internasional, termasuk UNESCO, menurutnya tidak terlepas dari kontribusi para sastrawan dan penyair yang selama ini merawat kekuatan bahasa melalui karya-karyanya.

Komitmen tersebut diwujudkan Kemendikdasmen melalui berbagai langkah, antara lain menghadirkan majalah sastra nasional Liris sebagai ruang berkarya bagi guru, murid, dan pegiat sastra, memberikan apresiasi kepada sastrawan yang telah berkarya puluhan tahun, serta memperkuat dukungan bagi komunitas sastra di berbagai daerah.

Semangat itu juga tumbuh di sekolah. Pada pembukaan PPN XIV, Mendikdasmen memberikan penghargaan kepada Kepala UPTD SDN 1 Bireuen, Ainiah, atas keberhasilan membangun budaya literasi yang mengantarkan muridnya berprestasi di tingkat nasional melalui Festival dan Lomba Seni dan Sastra Siswa Nasional (FLS3N). Melalui pembinaan yang berkelanjutan dan program literasi setiap pekan, sekolah menghadirkan ruang bagi murid untuk bercerita, membaca puisi, dan mendongeng sebagai bagian dari pembentukan karakter.

Mengusung tema "Puisi untuk Kemanusiaan, Dari Diksi ke Aksi", PPN XIV diikuti 228 peserta dari 14 negara dan berlangsung di empat wilayah Aceh. Lebih dari sekadar pertemuan penyair, forum ini menjadi pengingat bahwa sastra adalah investasi kebudayaan yang membentuk manusia berkarakter sekaligus mengukuhkan Bahasa Indonesia sebagai bahasa yang semakin dihormati di panggung dunia. (Penulis: Destian/Fotografer: Irfan Badan Bahasa)

Penulis: Destian Rifki

Editor: Denty Anugrahmawaty

Berita Terkait