pendidikan_untuk semua Ramah rumah_pendidikan
Temukan informasi tentang Kemendikdasmen, struktur organisasi, dan regulasi
Informasi Profil Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah
Informasi Publik Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah
Temukan kabar, siaran pers, pengumuman, dan dokumentasi resmi dari Kemendikdasmen
Informasi Umum
Beranda
Button Icon
Button Icon
PPID
Button Icon Beranda
Button Icon Profil
Temukan informasi tentang Kemendikdasmen, struktur organisasi, dan regulasi
Button Icon
Button Icon
Button Icon
Button Icon PPID
Praktik Baik Gerakan Literasi yang Didukung Pemda dan Masyarakat

Diterbitkan pada: 30/05/2026

Bagikan:

Gambar Siaran Pers

Kupang, NTT, Kemendikdasmen - Salah satu kebijakan yang mendorong budaya literasi di NTT adalah Peraturan Gubernur (Pergub) yang mengatur tentang Gerakan Jam Belajar di Lingkungan Masyarakat. Peluncuran kebijakan tersebut menjadi langkah strategis Pemerintah Provinsi NTT dalam memperkuat ekosistem pendidikan berbasis keluarga, dengan mendorong keterlibatan aktif orang tua dalam mendampingi proses belajar anak di rumah.

Kepala Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa, Hafidz Muksin, menegaskan bahwa peningkatan kualitas literasi bangsa tidak dapat dilakukan oleh satu pihak saja. Menurutnya, literasi memerlukan keterlibatan seluruh unsur masyarakat agar dapat tumbuh menjadi budaya yang hidup di lingkungan keluarga, sekolah, dan masyarakat. “Partisipasi semesta menjadi kunci untuk membangun ekosistem pendidikan yang bermutu dan berkeadilan,” ujar Hafidz.

Dalam kesempatan terpisah, Gubernur Melki menjelaskan bahwa kebijakan ini dirancang agar proses pendidikan tidak berhenti di sekolah, tetapi terus berlanjut di lingkungan keluarga. “Gerakan Jam Belajar ini mengatur agar ada partisipasi aktif orang tua dan sinergi dengan sekolah, sehingga anak-anak setelah pulang sekolah tetap memiliki waktu belajar yang berkualitas di rumah dengan pendampingan penuh kehangatan dan kasih sayang,” jelasnya.

Ia menambahkan, pembatasan penggunaan gawai juga menjadi bagian penting dalam kebijakan tersebut guna mendorong interaksi yang lebih sehat antara anak dan keluarga.

Bunda Literasi Provinsi NTT, Mindriyati menambahkan bahwa Gerakan Jam Belajar dilaksanakan secara rutin setiap Senin hingga Jumat di luar jam sekolah. Pelaksanaannya dapat disesuaikan dengan kondisi keluarga, aktivitas orang tua, maupun kegiatan keagamaan dan budaya lokal. Program ini tidak hanya berfokus pada aspek akademik, tetapi juga mencakup pembinaan karakter, penguatan nilai keagamaan, peningkatan literasi, penyelesaian tugas sekolah, pembelajaran budaya lokal, hingga penguatan relasi keluarga melalui interaksi positif.

Sebagai bagian dari rangkaian kegiatan di NTT, Kepala Badan Bahasa bersama tim INOVASI melakukan audiensi dengan Gubernur Nusa Tenggara Timur, Melkiades Laka Lena, dan Bunda Literasi NTT untuk membahas penguatan budaya literasi, pengutamaan bahasa negara, serta pelestarian bahasa daerah di wilayah NTT.

Praktik Baik Peran Bahasa Ibu dalam Memperkuat Literasi di NTT

Penguatan literasi di Nusa Tenggara Timur (NTT) terus mendapat perhatian dari Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa (Badan Bahasa). Melalui Balai Bahasa Provinsi NTT mendapat dukungan dari program INOVASI, kemitraan Australia–Indonesia yang mendukung peningkatan kualitas pendidikan dasar di Indonesia.

Wakil Direktur INOVASI Bidang Pengembangan Ekosistem Pendidikan dan Manajemen Subnasional, Handoko Widagdo, menjelaskan bahwa program INOVASI terus mendukung penguatan literasi dan numerasi dasar melalui pelatihan guru, distribusi buku bacaan nonteks, serta pengembangan pembelajaran berbasis konteks lokal.

Menurutnya, salah satu pendekatan yang dikembangkan adalah transisi bahasa ibu di kelas awal yang telah diterapkan di sejumlah wilayah di NTT, seperti Kabupaten Sumba Barat, Nagekeo, Timor Tengah Utara, Sumba Timur, Timor Tengah Selatan, dan Ende. “Pendekatan bahasa ibu membantu anak-anak memahami pembelajaran dengan lebih baik pada fase awal pendidikan. Ini menjadi bagian penting dalam membangun fondasi literasi,” ujar Handoko.

Ia menambahkan bahwa INOVASI akan terus mendukung pemerintah daerah di NTT hingga tahun 2027 melalui penguatan kapasitas guru, kepala sekolah, dan ekosistem pendidikan daerah. “Gerakan literasi tidak cukup hanya dilakukan di sekolah. Keluarga, masyarakat, pemerintah daerah, dan mitra pembangunan harus bergerak bersama agar budaya membaca tumbuh kuat,” sambut Hafidz.

Belajar dari Kabupaten Nagekeo

Pada kesempatan yang sama, Bunda Literasi Kabupaten Nagekeo, Agustina Prawitowati, membagikan keberhasilan daerahnya sebagai wilayah dengan tingkat kegemaran membaca tertinggi di NTT. Keberhasilan ini dicapai berkat sinergi dengan berbagai pihak, termasuk NGO seperti INOVASI.

“Kami dibantu banyak instansi pemerintah dan NGO. Di sekolah-sekolah, pembelajaran dilakukan secara terstruktur sesuai level kelas. Selain itu, kami bekerja sama dengan Taman Baca Pelangi untuk menyediakan sarana perpustakaan yang ramah anak,” jelas Agustina.

Agustina menargetkan setiap sekolah di Nagekeo memiliki taman baca yang nyaman. “Anak-anak sangat antusias. Mereka bisa membaca sambil bersantai, bahkan menggambar di dinding. Suasana seperti ini yang membuat mereka betah berlama-lama dengan buku,” tuturnya.*** (Penulis & Dokumentasi: Tim Badan Bahasa)

Sumber: Badan Bahasa

Penulis: Kontributor BKHM

Editor: Denty Anugrahmawaty

Berita Terkait