Diterbitkan pada: 04/05/2026
Kota Singkawang, Kalimantan Barat, 4 Mei 2026 — Kota Singkawang menegaskan diri sebagai salah satu daerah yang serius menjaga warisan budaya secara terarah dan kolaboratif. Upaya menjaga keberagaman bahasa dan memperkuat jati diri budaya kembali ditegaskan oleh Pemerintah Kota Singkawang bersama Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa (Badan Bahasa). Melalui kolaborasi yang kian solid, revitalisasi bahasa daerah tidak hanya menjadi wacana, tetapi diwujudkan dalam langkah nyata yang menyentuh ruang budaya dan pendidikan sekaligus. Komitmen ini tercermin dalam gelaran tradisi Belarak Pengantin dan Saprahan di Rumah Melayu, yang tidak sekadar menjadi perayaan budaya, tetapi juga momentum strategis untuk menghidupkan kembali penggunaan bahasa daerah di tengah masyarakat. Tradisi ini menghadirkan nilai-nilai kebersamaan, tata krama, dan identitas Melayu yang terus dijaga lintas generasi. Pemerintah Kota Singkawang menekankan pentingnya mengadaptasi pelestarian budaya dengan perkembangan zaman. Di era digital, promosi budaya tidak lagi cukup dilakukan secara konvensional, tetapi perlu diperkuat melalui media sosial agar lebih dekat dengan generasi muda. “Saprahan ini bukan sekadar tradisi makan bersama, tetapi juga ruang edukasi budaya. Kami ingin nilai-nilainya terus hidup dan dikenal luas, termasuk melalui media sosial, agar generasi muda merasa memiliki dan bangga terhadap warisan budayanya,” tegas Wali Kota Singkawang, Tjhai Chui Mie. Dari sisi kebijakan nasional, Kepala Badan Bahasa, Hafidz Muksin, mengapresiasi langkah progresif Pemerintah Kota Singkawang yang telah menandatangani kerja sama Revitalisasi Bahasa Daerah. Ia menilai, pendekatan berbasis budaya seperti ini efektif untuk menumbuhkan kecintaan siswa terhadap bahasa ibu. Menurut Hafidz, tradisi seperti Belarak Pengantin dan Saprahan dapat menjadi ruang kreatif bagi pelajar melalui kegiatan Festival Tunas Bahasa Ibu (FTBI), seperti lomba berpantun dan penulisan cerita pendek berbahasa daerah. Tidak berhenti di situ, Badan Bahasa juga akan memperkuat kapasitas tenaga pendidik sebagai garda terdepan pelestarian bahasa. “Kami akan memberikan penyuluhan, pendampingan, hingga fasilitasi Uji Kemahiran Berbahasa Indonesia (UKBI) secara gratis bagi guru bahasa Indonesia di Singkawang. Ini penting untuk memastikan kualitas pembelajaran bahasa semakin baik dan berdampak luas,” ujar Hafidz. Sementara itu, Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kota Singkawang, Asmadi, menyampaikan bahwa pihaknya tengah menyiapkan langkah konkret di sektor pendidikan. Penyusunan modul kurikulum muatan lokal bahasa Melayu menjadi prioritas, sejalan dengan program nasional di bidang pendidikan dasar dan menengah. “Bahasa daerah adalah jati diri bangsa. Kami telah menginstruksikan KKG dan MGMP untuk menyusun bahan ajar bahasa Melayu. Selain itu, setiap hari Kamis sekolah akan menggunakan bahasa Melayu sebagai bahasa komunikasi, agar budaya ini benar-benar hidup dalam keseharian siswa,” jelas Asmadi. Sinergi antara pemerintah pusat dan daerah ini diharapkan mampu memperkuat ekosistem pelindungan bahasa daerah secara berkelanjutan. Lebih dari itu, nilai-nilai luhur dalam tradisi Belarak Pengantin dan Saprahan mulai dari nilai spiritual, sosial, hingga etika berinteraksi diharapkan dapat membentuk generasi yang tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga kokoh dalam identitas budaya.*** (Penulis & Dokumentasi: Tim Badan Bahasa/Editor: Denty)
Biro Komunikasi dan Hubungan Masyarakat
Sekretariat Jenderal
Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah
Laman: kemendikdasmen.go.id
X: x.com/Kemdikdasmen
Instagram: instagram.com/kemendikdasmen
Facebook: facebook.com/kemendikdasmen
YouTube: KEMDIKDASMEN
Pertanyaan dan Pengaduan: ult.kemendikdasmen.go.id
Siaran Pers Kemendikdasmen: kemendikdasmen.go.id/pencarian/siaran-pers
#PendidikanBermutuuntukSemua
#KemendikdasmenRamah
Penulis: Kontributor BKHM
Editor: Denty Anugrahmawaty