Diterbitkan pada: 06/02/2026
Jakarta, Kemendikdasmen — Menjelang datangnya bulan suci Ramadan, Wakil Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Wamendikdasmen), Atip Latipulhayat, mengajak umat Islam menyambutnya dengan rasa gembira, penuh penghormatan, dan kesadaran spiritual yang mendalam. Menurutnya, bulan Ramadan bukan sekadar pergantian waktu ibadah, melainkan momentum istimewa yang sejak awal telah disambut secara khusus oleh Rasulullah SAW dengan penuh kemuliaan.
Hal tersebut disampaikan Wamen Atip dalam ceramah Tarhib Ramadan 1447 Hijriah bertema Ramadan Gembira, di Masjid Baitut Tholibin, pada Jumat (6/2). Ia menjelaskan bahwa tradisi tarhib atau menyambut Ramadan merupakan bentuk penghormatan terhadap bulan yang tidak datang secara biasa, karena di dalamnya Allah SWT menghadirkan keagungan, keberkahan, dan kesempatan pembinaan diri bagi manusia.
“Rasulullah SAW menyambut Ramadan dengan memberikan kehormatan atas kedatangannya. Ini menunjukkan bahwa bulan yang akan datang bukan bulan sembarangan, melainkan bulan yang memiliki nilai agung,” ujar Wamen Atip.
Ia menegaskan bahwa keistimewaan Ramadan bukan terletak pada jumlah harinya, melainkan pada kualitas amal dan ibadah yang dilakukan di dalamnya. Allah SWT menetapkan Ramadan sebagai bulan yang penuh keberkahan dan di dalamnya terdapat satu malam yang nilainya lebih baik dari seribu bulan.
Wamen Atip juga menyoroti bahwa praktik puasa tidak hanya dikenal dalam tradisi Islam, melainkan juga dalam berbagai kebudayaan. Namun, puasa Ramadan memiliki kekhususan karena ditetapkan langsung oleh Allah SWT dengan tujuan yang jelas, yakni membentuk ketakwaan dan meningkatkan kualitas kemanusiaan. “Puasa bukan sekadar menahan lapar dan dahaga. Dampak terpentingnya adalah perubahan etika dan perilaku manusia dalam kehidupan sosial,” jelasnya.
Dalam menjelaskan kewajiban puasa, Wamen Atip menekankan bahwa Al-Qur’an menggunakan bahasa yang sangat manusiawi dan penuh kelembutan. Perintah puasa tidak disampaikan dengan bahasa hukum yang kaku, melainkan sebagai bentuk pembimbingan spiritual dari Allah SWT yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang, serta selalu disesuaikan dengan kemampuan manusia.
Menurutnya, ajaran Islam tidak pernah melepaskan dimensi kemanusiaan, termasuk dengan adanya keringanan bagi mereka yang memiliki kondisi tertentu. Hal ini menunjukkan bahwa kewajiban ibadah tidak dimaksudkan untuk memberatkan, melainkan membimbing manusia menuju kualitas diri yang lebih baik.
Wamen Atip juga mengangkat keteladanan Rasulullah SAW dalam menjalani kehidupan sehari-hari, termasuk dalam kebersamaan keluarga dan kerja sama sosial. Rasulullah menjalankan ibadah tanpa menghilangkan sisi kemanusiaan, bahkan menegaskan pentingnya kontribusi dan kebersamaan dalam menikmati nikmat kehidupan.
“Kesalehan tidak berarti keluar dari atmosfer kemanusiaan. Justru ibadah harus memperkuat hubungan antarmanusia dan membangun kebersamaan,” ujarnya.
Menutup ceramahnya, Wamen Atip mengingatkan bahwa esensi puasa adalah kemampuan mengendalikan diri dan membangun disiplin. Ramadan menjadi latihan spiritual agar manusia menyadari bahwa tidak ada yang benar-benar permanen di dunia, kecuali kehidupan akhirat.
Ia berharap Ramadan 1447 Hijriah dapat menjadi momentum bagi seluruh umat untuk menyambut ibadah dengan kesiapan lahir dan batin, serta menjalaninya dengan rasa syukur dan kegembiraan.
“Semoga Allah SWT memberikan kepada kita semua kesempatan, kesehatan, dan kekuatan untuk menjalani Ramadan dengan sebaik-baiknya,” pungkasnya.*** (Penulis: Rayhan/Editor: Denty A.)
Biro Komunikasi dan Hubungan Masyarakat
Sekretariat Jenderal
Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah
Laman: kemendikdasmen.go.id
X: x.com/Kemdikdasmen
Instagram: instagram.com/kemendikdasmen
Facebook: facebook.com/kemendikdasmen
YouTube: KEMDIKDASMEN
Pertanyaan dan Pengaduan: ult.kemendikdasmen.go.id
Siaran Pers Kemendikdasmen: kemendikdasmen.go.id/pencarian/siaran-pers
#PendidikanBermutuuntukSemua
#KemendikdasmenRamah
Penulis: Rayhan Parady
Editor: Denty Anugrahmawaty