Temukan informasi detail tentang Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah
Informasi Publik Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah
Temukan kabar, siaran pers, pengumuman, dan dokumentasi resmi dari Kemendikdasmen
Suara Anak-Anak di FTBI 2026: Misteri Uang sampai Isu Perundungan

Kabupaten Semarang, Jawa Tengah, 12 Oktober 2026 - Di Festival Tunas Bahasa Ibu (FTBI) Tingkat Provinsi Jawa Tengah 2026, para murid menunjukkan kebolehan mereka berbahasa Jawa dengan mengundang tawa, merangkai misteri, hingga menyuarakan penolakan terhadap perundungan. Ricky Wahyu Ramadan, Jaya Krishna, dan Nafisha Aurelia Putri Aldrin membuktikannya melalui karya yang mereka bawa ke acara ini. Bagi mereka, bahasa daerah bukan sekadar pelajaran atau warisan orang tua, melainkan ruang untuk menuangkan ide, menyampaikan pesan, dan menunjukkan kemampuan diri.
 
Ricky, siswa SMP peserta kategori komedi tunggal atau ndhagel ijen dari Kota Magelang, ingin mengenalkan daerah asalnya kepada anak-anak dari berbagai wilayah di Jawa Tengah. Ia mengangkat cerita tentang Kaliangkrik, kawasan di bawah Gunung Sumbing, termasuk sayuran yang dikenal masyarakat setempat sebagai wit onclang.

Materi itu ia tulis sendiri dengan pantauan pelatih. Tantangannya bukan hanya menemukan bahan cerita, tetapi juga mengatur intonasi dan membangun kejutan agar penonton tertawa. Ricky menyadari bahwa lelucon yang bagus belum tentu berhasil jika cara penyampaiannya tidak menarik. “Kalau mau membuat (penonton) ketawa, (kita) itu harus excited,” ujarnya. Ia berharap keikutsertaannya dapat membawa nama baik sekolah sekaligus menambah prestasi sebagai bekal melanjutkan pendidikan ke SMA.
 
Sementara itu, Jaya Krishna, siswa SMP Negeri 4 Magelang, memilih bercerita melalui cerkak atau cerita pendek berbahasa Jawa. Ia meraih juara pertama tingkat kabupaten dengan karyanya berjudul Wewadi, yang berkisah tentang misteri uang yang ditemukan, tetapi tidak diketahui siapa pemiliknya. Melalui karyanya ini, ia ingin menyampaikan pesan untuk tidak mengambil uang yang bukan miliknya.

Jaya mengembangkan cerita dari kata pemantik yang diberikan panitia. Ia menyusun alur dan konflik hingga menjadi cerita sepanjang tiga halaman. Bagian tersulit, menurutnya, justru membangun konflik agar cerita tidak kehilangan arah. Kebiasaan menulisnya telah tumbuh sejak SD. Saat berlatih, Jaya mengungkapkan kebiasaannya untuk menentukan judul terlebih dahulu, menyusun alur, lalu mengembangkan cerita secara utuh. Tantangan lainnya adalah memilih kosakata Jawa yang tepat. Bagi Jaya, menulis dalam bahasa Jawa membutuhkan ketelitian agar pilihan kata sesuai dengan kaidah bahasa. Ia juga ingin mengubah anggapan bahwa bahasa Jawa kuno dan membosankan. “Ayo ikut lestarikan budaya Jawa. Karena itu juga turun-temurun, jadi, kita harus melestarikan agar tetap terjaga,” kata Jaya.
 
Bahasa Jawa juga menjadi medium bagi Nafisha Aurelia Putri Aldrin, siswa kelas VII SMP Negeri 1 Kota Magelang, untuk membahas persoalan yang dekat dengan kehidupan remaja, yaitu perundungan. Dalam pidato atau sesorah, ia menjelaskan pengertian perundungan, kemudian mengajak pendengarnya ikut mencegahnya. Ia bahkan memasukkan tembang macapat sebagai bagian dari pidato. Nafisha mengaku bangga dapat menggunakan bahasa Jawa untuk menyampaikan pesan tersebut. Kebiasaan berbahasa daerah juga didukung lingkungan sekolahnya yang menetapkan hari Selasa untuk berbahasa Inggris dan hari Kamis untuk berbahasa Jawa. Baginya, bahasa daerah tetap relevan untuk menyampaikan pesan selama pendengarnya memahami bahasa yang digunakan.


Di balik karya para peserta, ada para guru yang membantu mereka melewati proses latihan. Mukhtarus Shihah, guru Bimbingan Konseling sekaligus pendamping dari SMP Negeri 1 Jepara, mengatakan bahwa persiapan lomba membutuhkan penyesuaian dengan jadwal belajar. Ketika latihan berbenturan dengan pelajaran, guru perlu mengatur waktu agar persiapan berjalan tanpa mengabaikan pembelajaran di kelas. Menurutnya, salah satu tantangan terbesar adalah membimbing peserta menulis dan membaca aksara Jawa. Kemampuan tersebut membutuhkan ketekunan dan pendampingan guru yang menguasai bahasa Jawa. Namun, proses itu juga dapat membuka potensi anak yang sebelumnya tidak terlihat.
 
Ia menceritakan pengalaman seorang siswanya bernama Umar yang dikenal pendiam dan awalnya tidak terlihat menonjol dalam pembelajaran. Setelah melalui proses pendampingan, Umar malah berhasil meraih juara pertama tingkat provinsi pada festival sebelumnya. Pengalaman itu menjadi pengingat bahwa kemampuan anak tidak selalu langsung terlihat, tetapi dapat tumbuh ketika mendapat kesempatan dan bimbingan yang tepat. “Bahasa ibu nomor satu,” ujar Mukhtarus, menekankan pentingnya menjaga bahasa daerah di tengah beragam bahasa yang makin akrab dengan kehidupan anak-anak.

Pada saat pembukaan FTBI 2026, Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah, Abdul Mu’ti, mengapresiasi kreativitas anak-anak dalam kegiatan seperti FTBI. Menurutnya, pelestarian bahasa daerah merupakan bagian dari upaya menjaga kebudayaan sekaligus identitas bangsa. “Melestarikan bahasa daerah adalah bagian dari kita merawat keindonesiaan kita,” ujarnya.
 
Kepala Balai Bahasa Jawa Tengah, Dwi Laily Sukmawati, menyampaikan terima kasih kepada Universitas Ngudi Waluyo (UNW) dan Pemerintah Kabupaten Semarang atas dukungan dan kolaborasi sehingga kegiatan FTBI Tingkat Provinsi Jawa Tengah Tahun 2026 terselenggara dengan sangat baik. Hal ini menunjukkan bahwa program pelindungan bahasa daerah menjadi tanggung jawab bersama berbagai pemangku kepentingan. “Untuk itu, Balai Bahasa Provinsi Jawa Tengah memberikan piagam penghargaan kepada 35 pemerintah kabupaten/kota atas dukungan dan komitmen mereka dalam pelestarian bahasa Jawa di Jawa Tengah. Balai Bahasa Provinsi Jawa Tengah terus berinovasi dalam upaya pelestarian bahasa daerah dengan menggandeng seluruh pemangku kepentingan, satuan pendidikan, dan komunitas dalam layanan digital bahasa daerah, antara lain, kamus digital Senarai Istilah Budaya Jawa (Sibaja) dan aplikasi Sistem Adaptif Belajar Bahasa Daerah (SABDA)” ungkap Laily.
 
Laily menambahkan bahwa peserta FTBI adalah generasi penerus yang luar biasa dalam pelestarian bahasa Jawa. Mereka tidak malu berbahasa Jawa. “Kebanggaan mereka dalam menggunakan bahasa ibu perlu kita apresiasi dan kita dorong terus melalui ajang FTBI ini,” tegasnya.

 
FTBI Tingkat Provinsi Jawa Tengah 2026 berlangsung pada 9–11 Oktober 2026 dengan melibatkan 560 peserta dari 35 kabupaten/kota, yang terdiri atas 490 murid SD dan SMP, masing-masing 245 murid serta 70 pendamping. Para murid merupakan pemenang pertama festival tingkat kabupaten/kota yang melanjutkan kompetisi ke tingkat provinsi. Diselenggarakan oleh Balai Bahasa Provinsi Jawa Tengah, festival ini mempertandingkan tujuh kategori, yaitu menulis dan membaca aksara Jawa, mendongeng, berpidato atau sesorah, menulis cerkak, membaca geguritan, nembang macapat, dan komedi tunggal atau ndhagel ijen. FTBI ini merupakan puncak program pelindungan bahasa daerah yang didahului dengan rapat koordinasi dengan pemerintah daerah, rapat penyusunan bahan ajar dengan para pakar, pelatihan guru, pengimbasan pembelajaran, dan festival berjenjang.
 
Dari panggung FTBI, bahasa Jawa hadir dalam banyak wajah, sebagai bahan tawa, cerita penuh teka-teki, dan ajakan mencegah perundungan. Pengalaman para peserta menunjukkan bahwa bahasa daerah tidak harus dijauhkan dari dunia anak-anak. Justru ketika mereka diberi ruang untuk menggunakannya dengan cara mereka sendiri, bahasa itu menemukan kehidupan baru. (Penulis: Rona Uly; Editor: Tim Balai Bahasa Jateng, Seno; Fotografer: Irfan)

 
Biro Komunikasi dan Hubungan Masyarakat
Sekretariat Jenderal
Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah
 
Laman: kemendikdasmen.go.id
X: x.com/Kemdikdasmen
Instagram: instagram.com/kemendikdasmen
Facebook: facebook.com/kemendikdasmen
YouTube: KEMDIKDASMEN
Pertanyaan dan Pengaduan: ult.kemendikdasmen.go.id
Siaran Pers Kemendikdasmen: kemendikdasmen.go.id/pencarian/siaran-pers
 
#PendidikanBermutuuntukSemua
#KemendikdasmenRamah