Temukan informasi tentang Kemendikdasmen, struktur organisasi, dan regulasi
Informasi Publik Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah
Temukan kabar, siaran pers, pengumuman, dan dokumentasi resmi dari Kemendikdasmen
Menjawab Rasa Ingin Tahu Murid Dengan Pembelajaran Mendalam

Jakarta, 17 September 2026— Hasil PISA 2025 tidak hanya menunjukkan capaian akademik murid Indonesia, tetapi juga menemukan potensi positif yang dapat dikembangkan dalam pembelajaran. Sebanyak 80 persen murid Indonesia menyatakan ingin tahu tentang banyak hal, lebih tinggi dibandingkan rata-rata negara anggota Organisation for Economic Co-operation and Development (OECD) sebesar 73 persen. Potensi tersebut menjadi salah satu pembahasan dalam Seminar Hasil PISA Indonesia Tahun 2025 yang diselenggarakan Pusat Asesmen Pendidikan, Badan Kebijakan Pendidikan Dasar dan Menengah (BKPDM), Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen), di Jakarta, Selasa (15/9).

Kepala BKPDM, Toni Toharudin, mengatakan, kenaikan kemampuan membaca dan sains patut diapresiasi, sementara penurunan pada matematika menjadi perhatian yang perlu ditindaklanjuti melalui kebijakan yang tepat. “Pada tahun 2025, perlu kita tempatkan bukan sekadar sebagai laporan capaian, melainkan sebagai dasar untuk memperbaiki dan juga mempercepat peningkatan mudu pendidikan kita,” ujar Toni. Salah satu arah kebijakan yang disampaikan adalah meningkatkan kualitas pembelajaran di ruang kelas, terutama kemampuan bernalar, memecahkan masalah, dan menerapkan pengetahuan dalam konteks nyata.

Direktur Pendidikan dan Keterampilan OECD, Andreas Schleicher, menyampaikan bahwa kuatnya rasa ingin tahu merupakan salah satu temuan positif PISA 2025 di Indonesia. Ia menyebut Indonesia termasuk negara dengan tingkat rasa ingin tahu murid yang kuat. Dalam indeks yang digunakan OECD, rata-rata negara anggota OECD berada pada angka 5, sementara Indonesia mencapai 9. Indonesia juga menunjukkan kemampuan self-directed learning yang relatif baik, yakni kemampuan merencanakan dan mengelola pembelajaran sendiri.

Selain rasa ingin tahu, 74 persen murid Indonesia melaporkan berupaya lebih keras ketika menghadapi pekerjaan yang menantang, dibandingkan rata-rata negara anggota OECD sebesar 60 persen. Dibandingkan tahun 2022, proporsi murid yang menyatakan ingin tahu tentang banyak hal meningkat 7,3 poin persentase, sementara yang melaporkan berupaya lebih keras ketika menghadapi tantangan meningkat 7,2 poin persentase.

Menanggapi hal ini, perwakilan Dewan Pendidikan Nasional, Ali Saukah, melihat rasa ingin tahu tersebut sebagai potensi yang perlu dikembangkan melalui proses pembelajaran. Ia menyebutnya sebagai “modal sosial” yang dapat menjadi sumber optimisme. “Itu (rasa ingin tahu) modal sosial yang menurut saya sangat bagus membuat kita optimis,” kata Ali. 

Bagaimana potensi tersebut berkembang menjadi kemampuan berpikir terlihat dari contoh yang disampaikan Guru Besar Institut Teknologi Bandung, Edy Tri Baskoro. Menurutnya, pembelajaran matematika perlu memberi ruang bagi murid untuk berpikir, bernalar, mencoba berbagai cara penyelesaian, menyampaikan alasan, dan melakukan refleksi. Pembelajaran juga tidak harus mengejar banyak materi, tetapi memberi ruang untuk memahami satu topik secara lebih mendalam.

Salah satu gagasannya adalah “one reasoning problem every day” atau satu soal bernalar setiap hari yang diterapkan di tiap jenjang pendidikkan. Dengan sekitar 200 hari belajar dalam setahun, maka selama sembilan tahun, kebiasaan tersebut dapat memberi murid sekitar 1.800 pengalaman bernalar.

Pandangan tersebut juga menempatkan guru sebagai bagian penting dalam menciptakan pembelajaran yang memberi ruang bagi murid untuk berpikir. Diana Rochintaniawati dari Universitas Pendidikan Indonesia mengatakan, kekuatan guru Indonesia yang dinilai helpful perlu diarahkan pada pembelajaran berbasis inquiry atau penyelidikan. PISA 2025 mencatat 82 persen murid Indonesia menilai guru menunjukkan perhatian terhadap pembelajaran mereka dalam sebagian besar pelajaran sains, sementara 85 persen mengatakan guru terus mengajar sampai mereka memahami materi. Melalui inquiry, murid didorong untuk menemukan, menguji, merefleksikan, dan menyampaikan argumentasi berdasarkan bukti. “Jadi ajaklah siswa itu dari inquiry,” ujar Diana.

Sri Rezki Widuri dari INOVASI mengatakan bahwa Pembelajaran Mendalam bisa membawa proses belajar melampaui tahap memahami. Ia menjelaskan bahwa pendekatan ini mendorong murid untuk menerapkan, mengevaluasi, merefleksikan, dan mentransfer pengetahuan atau keterampilan ke konteks baru. Dalam literasi, kemampuan membaca juga diarahkan menjadi reading to learn, sehingga membaca berjalan bersamaan dengan kemampuan berpikir.

Proses tersebut juga membutuhkan dukungan keluarga. Murni Leo dari Tanoto Foundation menyampaikan, survei yang dilakukan oleh Tanoto Foundation dan J-PAL pada tahun 2025 terhadap 8.060 orang tua di 17 kabupaten/kota pada lima provinsi menunjukkan 92 persen orang tua menganggap keterlibatan dalam pendidikan anak penting dan 68 persen diantaranya ikut membantu anak mengerjakan tugas. Ia menambahkan bahwa orang tua rata-rata menghabiskan 104 menit per hari untuk mendampingi pendidikan anak. “Jadi, sebenarnya peluang kita adalah bagaimana kita mematuhkan 104 menit itu menjadi lebih baik,” ujar Murni.

Rangkaian temuan tersebut menunjukkan bahwa rasa ingin tahu murid merupakan potensi yang dapat dikembangkan menjadi kemampuan belajar yang lebih dalam. Melalui pendekatan Pembelajaran Mendalam, rasa ingin tahu itu dapat diberi ruang untuk tumbuh menjadi kebiasaan bertanya, bernalar, memecahkan masalah, merefleksikan pengalaman, dan menggunakan pengetahuan tersebut dalam situasi baru.*** (Penulis: Uly/Dokumentasi: Tim BKPDM)
 

Biro Komunikasi dan Hubungan Masyarakat
Sekretariat Jenderal
Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah
 
Laman: kemendikdasmen.go.id
X: x.com/Kemdikdasmen
Instagram: instagram.com/kemendikdasmen
Facebook: facebook.com/kemendikdasmen
YouTube: KEMDIKDASMEN
Pertanyaan dan Pengaduan: ult.kemendikdasmen.go.id
Siaran Pers Kemendikdasmen: kemendikdasmen.go.id/pencarian/siaran-pers
 
#PendidikanBermutuuntukSemua
#KemendikdasmenRamah