05/09/2026 12:05:27
Jakarta, 2 September 2026 — Pendidikan menjadi salah satu jalan penting untuk memuliakan manusia dan membuka ruang kesetaraan bagi perempuan. Pesan tersebut disampaikan Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen) Abdul Mu’ti dalam tausiyah pada acara Maulid Nabi Muhammad saw. yang turut dihadiri Menteri Kebudayaan, Fadli Zon; Sekretaris Jenderal Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemendiktisaintek), Badri Munir Sukoco dan jajaran Kemendikdasmen serta seluruh pegawai pada Rabu (2/9) di Masjid Baitul Tholibin, Jakarta. Dalam tausiyahnya, Mendikdasmen Abdul Mu’ti menegaskan bahwa ruang agama, pendidikan, dan keilmuan tidak semestinya hanya menjadi ruang bagi laki-laki. Perempuan memiliki hak dan kesempatan yang sama untuk belajar, mengembangkan potensi, berprestasi, serta mengambil peran dalam kehidupan masyarakat. “Ruang-ruang agama itu tidak boleh dan tidak seharusnya hanya dimiliki oleh para laki-laki,” ujarnya. Menurut Abdul Mu'ti, pesan tersebut sejalan dengan salah satu nilai penting yang dapat dipetik dari sejarah kerasulan Nabi Muhammad saw., yakni penghormatan terhadap manusia dan pengangkatan harkat serta martabat perempuan. Mendikdasmen menjelaskan bahwa dalam sejarah perempuan pernah ditempatkan sebagai second gender atau second class society. Perempuan dianggap berada pada kelas kedua, bahkan dipandang sebagai penghambat. Kehadiran Islam melalui Rasulullah Muhammad saw., justru membawa misi untuk memuliakan manusia dan mengangkat harkat serta martabat perempuan. Nilai tersebut, lanjutnya, perlu diterjemahkan dalam kehidupan pendidikan saat ini. Perempuan harus mendapatkan kesempatan yang luas untuk menempuh pendidikan setinggi-tingginya, menghasilkan karya ilmiah, serta berkontribusi dalam pengembangan ilmu pengetahuan. “Akhlak yang menjadi argumen kami tentu saja untuk memberikan apresiasi kepada perempuan yang berprestasi,” ujarnya. Pendidikan Membuka Jalan Kesetaraan Mendikdasmen Abdul Mu’ti juga mengajak masyarakat untuk tidak membatasi kemampuan perempuan berdasarkan berbagai anggapan yang berkembang di masyarakat. Salah satunya adalah mitos yang meragukan kecerdasan perempuan. Ia menyinggung pandangan populer yang menganggap kecerdasan perempuan hanya separuh dari laki-laki. Menurutnya, realitas di dunia pendidikan justru menunjukkan banyak perempuan mampu menunjukkan prestasi akademik yang sangat baik. “Selama ini ada mitos-mitos yang berkembang di kalangan umat Islam, merujuk pada hadis populer yang menyebutkan bahwa kecerdasan perempuan itu separuhnya dari laki-laki. Tapi yang meriwayatkan itu laki-laki,” tuturnya. Mendikdasmen Abdul Mu’ti kemudian mengajak melihat fakta yang terjadi di lingkungan pendidikan. Dalam berbagai momentum wisuda, perempuan tidak jarang menjadi lulusan terbaik. Hal itu menunjukkan bahwa perempuan memiliki kemampuan intelektual yang luar biasa dan layak mendapatkan ruang yang sama untuk berkembang. “Faktanya sekarang ini banyak perempuan yang hebat. Kalau kita hadir acara wisuda, wisudawan terbaik itu mayoritas perempuan,” ujarnya. Ia juga menyoroti kemampuan perempuan dalam menghafal sebagai salah satu potensi yang dapat dikembangkan melalui pendidikan. Oleh karena itu, potensi perempuan tidak semestinya dibatasi oleh stereotip, melainkan perlu didukung melalui akses pendidikan dan kesempatan untuk berprestasi. Pesan tersebut menjadi semakin relevan ketika pendidikan tidak hanya dipahami sebagai proses memperoleh pengetahuan, tetapi juga sebagai sarana membangun karakter, membuka kesempatan, dan mempersiapkan setiap individu untuk berkontribusi bagi masyarakat. Perempuan sebagai Subjek Keilmuan Lebih lanjut dalam tausyiahnya, Abdul Mu’ti juga menyinggung sosok Aisyah sebagai bagian dari sejarah keilmuan Islam. Menurutnya, pembahasan mengenai perempuan dalam sejarah Islam perlu ditempatkan dalam perspektif yang lebih luas, termasuk melihat kontribusi perempuan sebagai subjek ilmu pengetahuan. Aisyah dikenal memiliki peran penting dalam transmisi ilmu dan hadis dalam sejarah Islam. Hal tersebut menunjukkan bahwa perempuan sejak masa awal perkembangan Islam telah memiliki posisi penting dalam kehidupan intelektual. Oleh karena itu, Mendikdasmen Abdul Mu’ti mendorong agar sejarah dan kontribusi perempuan dibaca secara utuh. Perempuan tidak hanya ditempatkan sebagai objek dalam sejarah, tetapi juga sebagai subjek yang mampu menghasilkan pengetahuan, mengembangkan ilmu, dan memberikan kontribusi bagi peradaban. Pada peringatan Maulid Nabi, Kemendikdasmen memberikan ruang bagi pendakwah perempuan yakni Ustazah Oki Setiana Dewi untuk mengurai kisah kehidupan Rasulullah Muhammad saw yang sarat akan nilai-nilai penguatan karakter. Dalam ceramahnya, Ustazah Oki menyampaikan bahwa sejak kecil kisah hidup Nabi Muhammad saw. telah memberikan pelajaran penting tentang pembentukan karakter dan empati. Rasulullah saw., telah mengalami berbagai kehilangan dan kesulitan sejak usia dini, termasuk menjadi yatim dan kemudian yatim piatu. Namun, pengalaman tersebut justru membentuk pribadi yang mampu merasakan dan memahami kesulitan orang lain. “Rasulullah harus merasakan kepedihan itu untuk bisa berempati kepada umatnya. Dalam kehidupan kita, kadang Allah menyuruh kita merasakan hal itu untuk membuat kita berempati terhadap orang-orang yang mungkin memiliki kisah serupa dengan kita,” ujar Oki. Menurut Oki, keteladanan Rasulullah juga terlihat dari akhlaknya yang membuat masyarakat memberikan gelar Al-Amin, atau orang yang terpercaya. Gelar tersebut diberikan bukan tanpa alasan, melainkan karena masyarakat melihat langsung kesesuaian antara perkataan dan perbuatannya. “Kalau diberi gelar sesuai dengan karakternya, betul. Gelar-gelar yang selalu disematkan orang sesuai dengan karakternya. Rasulullah karena perbuatannya, maka orang memberi gelar Al-Amin kepadanya,” katanya. Pesan tersebut sekaligus menegaskan pentingnya menghadirkan pendidikan yang memberikan kesempatan kepada setiap peserta didik untuk berkembang sesuai potensi dan kemampuannya. Pendidikan yang inklusif dan berkeadilan menjadi salah satu fondasi untuk membangun generasi yang mampu menghargai keberagaman, prestasi, serta kontribusi setiap individu. *** (Penulis: Ririn Dokumentasi: Rayhan/Editor: Uly) Biro Komunikasi dan Hubungan Masyarakat
Sekretariat Jenderal
Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah
Laman: kemendikdasmen.go.id
X: x.com/Kemdikdasmen
Instagram: instagram.com/kemendikdasmen
Facebook: facebook.com/kemendikdasmen
YouTube: KEMDIKDASMEN
Pertanyaan dan Pengaduan: ult.kemendikdasmen.go.id
Siaran Pers Kemendikdasmen: kemendikdasmen.go.id/pencarian/siaran-pers
#PendidikanBermutuuntukSemua
#KemendikdasmenRamah