Temukan informasi detail tentang Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah
Informasi Publik Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah
Temukan kabar, siaran pers, pengumuman, dan dokumentasi resmi dari Kemendikdasmen
STEM/STEAM di SNT 14 Jepara Integrasikan Sains, Teknologi, Enjinering dan Matematika

Jepara, Jawa Tengah, Kemendikdasmen  — Penerapan pembelajaran berbasis Sains, Teknologi, Enjinering, dan Matematika (STEM) di Sekolah Nasional Terintegrasi (SNT) 14 Jepara tidak hanya berlangsung di dalam kelas. Pendekatan tersebut dihadirkan melalui kegiatan intrakurikuler dan kokurikuler yang mendorong murid menghubungkan pengetahuan dengan persoalan nyata, berkolaborasi, serta menghasilkan solusi melalui praktik dan pengalaman langsung.

Dalam kegiatan intrakurikuler, pembelajaran STEM diterapkan melalui integrasi lintas disiplin ilmu. Salah satu praktiknya terlihat dalam tema “Memilih Produk Keuangan yang Tepat untuk Murid” yang mengintegrasikan mata pelajaran IPS (Ekonomi), Matematika, dan Bahasa Inggris.

Guru Bahasa Inggris SNT 14 Jepara, Cahyo Tomi Prakoso, mengatakan pembelajaran STEM membangun kemampuan murid untuk memecahkan masalah nyata melalui penyelidikan ilmiah, siklus enjinering yang berulang, pemodelan sistematis, dan pemanfaatan teknologi secara tepat guna.

“Pembelajaran STEM di SNT 14 Jepara diimplementasikan juga dalam intrakurikuler melalui integrasi interdisipliner atau lintas disiplin ilmu. Melalui integrasi interdisipliner yang dicanangkan, saya merasa ketika mengajar di kelas bisa lebih membangun pemahaman yang utuh,” ujar Cahyo.

Dalam tema tersebut, murid mempelajari produk dan lembaga keuangan melalui mata pelajaran Ekonomi. Pengetahuan tersebut kemudian dipadukan dengan Matematika untuk menyelesaikan persoalan sistem pertidaksamaan linear dua variabel yang berkaitan dengan produk keuangan. Sementara itu, Bahasa Inggris mengembangkan kemampuan murid dalam menyampaikan argumen atau pendapat secara efektif melalui materi Analytical Exposition Text dan media presentasi cetak maupun digital.

Guru Matematika SNT 14 Jepara, Devy Rizki Agustina, menjelaskan bahwa pembelajaran STEM mengintegrasikan praktik saintifik, teknologi, enjinering, dan matematika dalam proses berpikir dan pemecahan masalah. Murid tidak hanya memahami konsep, tetapi juga menggunakannya untuk menganalisis, memodelkan, dan mengevaluasi solusi.

Salah satu persoalan yang diberikan kepada murid ialah membantu seorang klien dengan modal maksimal Rp1 juta untuk menentukan kombinasi dua produk keuangan dengan harga berbeda. Murid kemudian menggunakan konsep sistem pertidaksamaan linear dua variabel untuk menentukan berbagai kemungkinan kombinasi dan menganalisis alternatif pilihan yang paling sesuai.

“Dalam prosesnya, tantangan yang dihadapi adalah perbedaan *starting point* kemampuan setiap murid. Oleh karena itu, pembelajaran dilakukan secara berkelompok agar murid dapat saling membantu dalam memahami konsep dan menyelesaikan masalah,” jelas Devy.

Sementara itu, penerapan Science, Technology, Engineering, Art, dan Mathematics (STEAM) dalam kegiatan kokurikuler diwujudkan melalui pembelajaran berbasis proyek yang mengangkat potensi lokal dan kepedulian terhadap lingkungan. Dua proyek yang dilakukan ialah inovasi pangan lokal SCOOPS (Seru Ciptakan Organik Penuh Selera) dan KOMPOS MANDIRI (Hasilkan Emas Hitam Penyelamat Bumi).

 

Perwakilan guru, Moch. Adib Irham A., mengatakan pembelajaran berbasis proyek tersebut membuat proses belajar menjadi lebih menggembirakan, bermakna, dan berkesadaran. Kegiatan sekaligus melatih murid mengasah kemampuan problem solving melalui pengalaman langsung.

Hal tersebut terlihat dalam proyek inovasi horog-horog, makanan tradisional khas Jepara. Murid tidak hanya mempelajari proses pembuatannya, tetapi juga mengembangkan inovasi dengan mengintegrasikan pengetahuan mengenai bahan, kalkulasi biaya, teknologi, dan desain kemasan agar produk lokal tetap relevan bagi generasi muda.

Perwakilan guru, Monica Syntia Oktaviani, mengatakan pembelajaran melalui proyek membuat murid tidak hanya menerima teori, tetapi turun langsung untuk berpraktik, berdiskusi, dan mencari solusi. Menurutnya, kegiatan tersebut sekaligus menunjukkan bahwa pelestarian tradisi dapat berjalan bersama dengan inovasi.

Pengalaman tersebut dirasakan Lutfan Rasydan Faris, murid jenjang SMP SNT 14 Jepara. Menurutnya, kegiatan inovasi horog-horog menarik karena murid dapat melihat langsung proses pembuatan, bertanya kepada narasumber, berdiskusi dengan teman, dan mencoba membuat inovasi produk sendiri. "Kami belajar menghitung biaya, menggunakan teknologi untuk membuat desain, memikirkan kemasan, dan bekerja sama dalam kelompok. Kegiatan ini membuat pembelajaran terasa lebih nyata dan menyenangkan,” ujar Lutfan.

Murid lainnya, Devani Fara Maritza, mengatakan kegiatan tersebut memberinya kesempatan untuk berkreasi dengan bahan dan makanan tradisional daerah. Ia juga belajar bahwa pelestarian makanan tradisional dapat dilakukan melalui inovasi tanpa menghilangkan nilai dan identitasnya.

Selain inovasi pangan, proyek KOMPOS MANDIRI mengajak murid mengolah sampah organik di lingkungan sekolah menjadi pupuk kompos. Murid belajar mengumpulkan dan memilah sampah, mencampurkan bahan yang sesuai, serta memahami proses penguraian sampah menjadi pupuk.

Murid jenjang SMA SNT 14 Jepara, Naura Lubna Agnia, mengatakan kegiatan tersebut memberikan pengalaman baru karena sampah organik seperti daun kering dan sisa tanaman yang selama ini dianggap sebagai sesuatu yang harus dibuang ternyata dapat dimanfaatkan menjadi sesuatu yang berguna. “Kegiatan ini membuat saya lebih memahami bahwa ilmu yang dipelajari di sekolah ternyata dapat diterapkan secara langsung dalam kehidupan sehari-hari,” kata Naura.

Senada dengan Naura, Muhammad Azka Labib Atmaja menilai kegiatan pembuatan kompos membuat pembelajaran lebih menarik karena murid dapat melihat dan melakukan sendiri prosesnya. Selain memahami pengolahan sampah, ia belajar bekerja sama, membagi tugas, berdiskusi, dan mencari solusi ketika menghadapi kendala.

Melalui pembelajaran intrakurikuler dan kokurikuler tersebut, SNT 14 Jepara menghadirkan STEM/STEAM sebagai pengalaman belajar yang menghubungkan pengetahuan dengan kehidupan nyata. Murid dilatih untuk berpikir kritis, memecahkan masalah, berkolaborasi, memanfaatkan teknologi, serta menghasilkan solusi dari persoalan yang dekat dengan kehidupan mereka.

Praktik tersebut sekaligus menunjukkan bahwa pembelajaran STEM/STEAM dapat menjadi ruang bagi murid untuk mengembangkan pengetahuan sekaligus kepedulian terhadap lingkungan dan potensi daerah. Dari ruang kelas hingga lingkungan sekolah, pembelajaran diarahkan agar pengetahuan tidak berhenti sebagai teori, tetapi tumbuh menjadi pengalaman, keterampilan, dan kebiasaan baik dalam kehidupan sehari-hari.*** (Penulis: Shaka/Editor: Denty/Dokumentasi: Tim SNT 14 Jepara)


Biro Komunikasi dan Hubungan Masyarakat
Sekretariat Jenderal
Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah
 
Laman: kemendikdasmen.go.id
X: x.com/Kemdikdasmen
Instagram: instagram.com/kemendikdasmen
Facebook:  facebook.com/kemendikdasmen
YouTube: KEMDIKDASMEN
Pertanyaan dan Pengaduan: ult.kemendikdasmen.go.id
Siaran Pers Kemendikdasmen: kemendikdasmen.go.id/pencarian/siaran-pers
 
#PendidikanBermutuuntukSemua
#KemendikdasmenRamah