Kabupaten Bolaang Mongondow, Sulawesi Utara, Kemendidkasmen — Sejak diluncurkan pada Agustus 2026, kehadiran Sekolah Nasional Terintegrasi (SNT) menjadi harapan baru untuk generasi muda Indonesia mengembangkan potensi dan meraih cita-cita. Di SNT 13 Bolaang Mongondow, Sulawesi Utara, para murid melakukan pengembangkan pembelajaran berbasis Science, Technology, Engineering, and Mathematics (STEM) untuk melatih kemampuan berpikir kritis, kreativitas, kolaborasi, komunikasi, dan pemecahan masalah.
Kepala SNT 13, Budiardjo Mamonto, mengatakan bahwa di level SMA para murid sedang mengembangan proyek bernama RAT-SHIELD AGRITECH: BOLMONG — Smart Ultrasonic System for Detecting and Repelling Rats in Bolaang Mongondow Rice Fields. Proyek ini dipimpin oleh guru mata pelajaran Koding dan Kecerdasan Aritifisial (KKA) dengan melibatkan aspek Informatika, Fisika, dan Pendidikan Pancasila.
Melalui proyek tersebut, murid mengidentifikasi persoalan hama tikus di persawahan, mempelajari sensor ultrasonik dan konsep bunyi, menyusun algoritma, merancang prototipe, melakukan pengujian, melakukan perbaikan, dan mempresentasikan hasil. ”Proyek ini menjadi contoh bagaimana potensi dan persoalan lokal Bolaang Mongondow dapat dijadikan sumber pembelajaran untuk menghasilkan gagasan teknologi yang kreatif, inovatif, dan bertanggung jawab,” ungkap Budiardjo, Jumat (9/10).
Budiardjo menyebut, pembelajaran di SNT 13 mendorong STEM sebagai bagian dari inovasi pembelajaran dengan memperkuat kolaborasi lintas mata pelajaran serta menghubungkan pembelajaran dengan masalah nyata di lingkungan murid. Dengan demikian, STEM diarahkan bukan sekadar menghasilkan produk, tetapi membangun budaya inovasi dan kemampuan murid menciptakan solusi untuk permasalahan di lingkungan sekitar.
Hal senada juga diutarakan oleh guru KKA, sekaligus leader STEM SMA, Muhammad Syifa. Menurutnya, proyek RAT-SHIELD AGRITECH memberikan pengalaman kepada murid untuk menghubungkan pemrograman, sensor, fisika, dan nilai-nilai Pancasila dalam satu persoalan nyata. ”Tantangannya bukan hanya membuat alat, tetapi bagaimana kami mengajak seluruh murid mampu berpikir sistematis dan menghasilkan teknologi yang bermanfaat serta bertanggung jawab untuk masyarakat sekitar kami,” tutur Syifa.
Selain upaya mengatasi permasalahan lingkungan, proyek STEM di SNT 13 juga mengarahkan murid untuk meningkatkan rasa nasionalisme melalui Misi Kurid Kemerdekaan. Guru Pendidikan Pancasila, sekaligus leader STEM SMP, Benedikta Firginia Lalogiroth, menuturkan bahwa pada protek itu murid mempelajari makna proklamasi, mengidentifikasi informasi dari sumber sejarah, melakukan pengukuran dan perhitungan, kemudian merancang wadah pelindung dokumen Proklamasi berdasarkan kriteria dan batasan yang ditentukan.
Pelaksanaan dilakukan secara berkelompok melalui tahapan memahami, mengaplikasikan, dan merefleksikan. Pada proses ini, murid mengamati video dan sumber sejarah, berdiskusi, membuat beberapa desain, memilih rancangan terbaik, menguji ketahanan dan kerahasiaan, kemudian melakukan perbaikan berdasarkan hasil pengujian. ”Melalui proyek Misi Kurir Kemerdekaan, murid tidak hanya mempelajari sejarah Proklamasi. Mereka belajar bagaimana sebuah pengetahuan diterapkan untuk menyelesaikan masalah. Kami melihat murid menjadi lebih aktif berdiskusi, berani menyampaikan ide, dan mampu memperbaiki karya berdasarkan hasil pengujian,” terang Firginia.
Manfaat Pembelajaran STEM untuk Murid
Dengan dua pembelajaran STEM di atas, murid SNT 13 turut merasakan hasil pembelajaran bermakna di ruang sekolah. Hal itu turut disampaikan oleh Edwario Stevanus Lakoy. Sejak awal ia mengira pelajaran proklamasi hanya sekadar membaca dan memahami sejarah.
”Lewat Misi Kurir Kemerdekaan, kami belajar lebih jauh dengan membuat desain dan mengujinya. Ketika desain pertama belum berhasil, kami memperbaikinya bersama. Saya belajar bahwa untuk mendapatkan hasil yang baik kita harus berani mencoba dan tidak mudah menyerah,” kata Edwario, murid kelas VII.
Selanjutnya, murid kelas X, Sifa baguna turut menyampaikan bahwa melalui proyek RAT-SHIELD AGRITECH, ia memahami bahwa Informatika dan Fisika bisa digabungkan untuk menyelesaikan masalah di lingkungan sekitar. ”Kami belajar membuat algoritma, memahami sensor, membuat prototipe, lalu mengujinya. Kalau belum berhasil, kami mencari penyebabnya dan memperbaiki lagi. Bagi saya, ini membuat pembelajaran menjadi lebih nyata,” tutup Sifa.*** (Penulis: Destian/Dokumentasi: Tim SNT 13 Bolaang Mongondow/Editor: Denty)
Biro Komunikasi dan Hubungan Masyarakat
Sekretariat Jenderal
Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah
Laman: kemendikdasmen.go.id
X: x.com/Kemdikdasmen
Instagram: instagram.com/kemendikdasmen
Facebook: facebook.com/kemendikdasmen
YouTube: KEMDIKDASMEN
Pertanyaan dan Pengaduan: ult.kemendikdasmen.go.id
Siaran Pers Kemendikdasmen: kemendikdasmen.go.id/pencarian/siaran-pers
#PendidikanBermutuuntukSemua
#KemendikdasmenRamah