Kota Sabulussalam, Aceh, Kemendikdasmen – Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) terus mendorong penguatan ekosistem pembelajaran Science, Technology, Engineering, dan Mathematics (STEM) di berbagai daerah. Salah satu praktik baik dihadirkan oleh Sekolah Nasional Terintegrasi (SNT) Sabulussalam, Aceh, yang berhasil mengintegrasikan pembelajaran berbasis proyek dengan fokus pada teknologi, kecerdasan buatan (AI) serta pengembangan karakter.
Kepala Sekolah SNT Sabulussalam Aceh, Eva Deliana Br. Bangun, menyampaikan bahwa penerapan kurikulum berbasis STEM didasari oleh kesadaran akan tantangan dan peluang era digital.
"Sebagai sekolah nasional terintegrasi, misi kami adalah mengeluarkan lulusan yang tidak hanya cerdas secara akademis, tetapi juga memiliki keterampilan berpikir kritis, pemecahan masalah dan kreativitas yang relevan dengan perkembangan zaman," jelas Eva Deliana Br Bangun.
SNT Sabulussalam Aceh merancang kebijakan terstruktur pada jenjang SMP dan SMA yang mencakup penyesuaian kurikulum, penyediaan akses perangkat komputasi, platform koding, serta pengembangan ekstrakurikuler Robotik dan Coding Club.
“Kami merancang kebijakan terstruktur dan berkesinambungan yang mencakup jenjang SMP dan SMA seperti penyesuaian kurikulum, pengembangan fasilitas walaupun masih dalam tahap proses melengkapi penyediaan akses perangkat komputasi dan platform pendukung koding,” ujar Eva.
Guna memperkuat dampak pembelajaran, SNT Sabulussalam Aceh merencanakan kolaborasi melalui kunjungan industri serta pelibatan praktisi STEM, seperti insinyur, dokter juga asosiasi orang tua murid sebagai mentor atau pemateri.
Ke depannya, sekolah menargetkan diri untuk menjadi rujukan pembelajaran STEM di daerah, mendorong hasil karya siswa agar dipatenkan atau dikembangkan menjadi wirausaha berbasis teknologi, serta memperdalam integrasi AI dan Green Technology dalam kurikulum.
"Dampak dan perubahan yang diharapkan untuk bisa dirasakan bersama adalah kemandirian dan inisiatif belajar murid, murid diharapkan menjadi lebih berani berinovasi, mengajukan pertanyaan kritis dan berani gagal dalam proses uji coba," harap Eva.
Pendekatan STEM di SNT Sabulussalam Aceh diwujudkan secara nyata melalui kegiatan yang menghubungkan konsep teori dengan praktik langsung. Agil Nashim Hamid, Guru SNT Sabulussalam Pengajar KKA (Koding dan Kecerdasan Artifisial)/Robotik, membagikan pengalamannya dalam mengajar STEM salah satunya adalah melalui proyek Cat Walk.
Pada materi ini, siswa membuat karakter kucing bergerak, berpindah arah, dan merespons kondisi tertentu. Jadi, konsep matematika dan teknologi dipelajari melalui sebuah proyek yang dapat langsung mereka lihat hasilnya.
“Proyek ini menarik karena siswa dapat melihat secara langsung hubungan antara kode yang mereka susun dengan gerakan karakter di layar. Selain itu, pendekatan Creative Computing memberikan ruang bagi siswa untuk menyusun dan mengembangkan kode secara kreatif,” tutur Agil.
Agil pun menambahkan, antusiasme dan respons siswa lebih tinggi pada saat diberikan pembelajaran berbasis proyek, dibandingkan dengan metode ceramah konvensional. Hal ini karena pembelajaran berbasis proyek seperti ini, siswa akan cenderung lebih mudah terlibat karena mereka tidak hanya mendengarkan penjelasan, tetapi langsung membuat sesuatu.
“Siswa dapat melihat karakter yang mereka program bergerak, berbicara, mengeluarkan suara, dan berubah arah. Hasil yang terlihat secara langsung membuat proses belajar terasa lebih interaktif dan menyenangkan. Materi juga ditutup dengan ajakan untuk menunjukkan hasil proyek,” jelas Agil.*** (Penulis: Morecka/Editor: Denty/Dokumentasi: Tim SNT 1 Sabulussalam)