Diterbitkan pada: 25/05/2026
Jakarta, Kemendikdasmen – Upaya menciptakan lingkungan belajar yang aman, nyaman, dan menyenangkan tidak hanya menjadi tanggung jawab guru dan sekolah. Para pelajar juga memiliki peran penting dalam membangun budaya saling menghargai serta mencegah terjadinya perundungan (bullying) di lingkungan satuan pendidikan. Melalui penerapan Budaya Anak Sekolah Aman dan Nyaman (BSAN), para siswa di berbagai sekolah menyampaikan pesan sederhana namun bermakna kepada teman-teman seusianya seperti menjaga pergaulan, memperbanyak kegiatan positif, dan berani menolak perilaku yang mengarah pada kekerasan maupun perundungan. Feby, siswi kelas X SMKN 1 Cinangka, merasakan langsung pentingnya lingkungan sekolah yang sehat dan penuh dukungan. "Sekolah aku solid banget, tidak ada bullying. Teman-teman dan guru-guru juga baik," ujarnya. Menurut Feby, salah satu cara paling efektif untuk menghindari perundungan adalah dengan membangun pertemanan yang sehat dan tidak membatasi diri dalam bergaul. “Perbanyak aktivitas positif, dan saling mendukung untuk hal-hal yang baik. Pesan saya untuk teman-teman, jaga pergaulan kalian," kata Feby. Pesan serupa disampaikan Syakila, siswi kelas X SMKN 6 Kota Tangerang. Ia menilai keberhasilan pencegahan bullying tidak lepas dari keterlibatan aktif siswa dalam menciptakan budaya sekolah yang peduli dan responsif. "Di sekolah kami tidak ada kasus bullying. Kampanyenya sudah berjalan dengan baik. OSIS di sekolah kami memiliki bidang yang khusus menangani persoalan ini. Jika ada masalah, akan ditindaklanjuti terlebih dahulu oleh pengurus OSIS (Sekbid V), dan bila diperlukan tindak lanjut, akan dibantu untuk berkonsultasi ke guru Bimbingan Konseling," jelasnya. Bagi Syakila, lingkungan yang aman harus dibangun dari keberanian setiap remaja untuk memilih pergaulan yang positif. "Kita harus mencari kegiatan yang positif dan memilih lingkungan pergaulan yang baik. Kalau ada hal yang negatif, kita harus berani menolaknya. Kita juga bisa menjauhi lingkungan yang tidak sehat. Kalau kita punya teman-teman yang baik, itu akan meningkatkan nilai diri kita," tuturnya. Sementara itu, di SMAN 14 Bandar Lampung, budaya saling menghormati ditanamkan melalui kebiasaan sehari-hari yang sederhana namun konsisten. Aprilla Novia, siswi kelas XI.6, mengatakan bahwa sekolahnya menerapkan budaya 5S, yaitu Senyum, Salam, Sapa, Sopan, dan Santun. "Kami selalu menerapkan 5S kepada guru maupun sesama teman. Jadi suasana sekolah terasa lebih akrab dan saling menghargai," ujarnya. Ia mengatakan, pencegahan bullying tidak hanya dilakukan ketika masalah muncul, tetapi sudah dimulai dari pembentukan budaya sekolah dan komunikasi yang baik antara sekolah dengan orang tua. "Kalau ada siswa yang melakukan kesalahan, akan dibimbing oleh guru dan BK. Orang tua juga dilibatkan. Bahkan sejak awal orang tua sudah mengetahui adanya peraturan sekolah termasuk hak, kewajiban, dan konsekuensinya," jelasnya. Ia menilai keberhasilan menciptakan sekolah yang aman tidak dapat dilakukan oleh sekolah saja, melainkan membutuhkan dukungan seluruh unsur pendidikan. "Hubungan antara sekolah dan orang tua di sini sangat baik. Setiap kegiatan dan perkembangan siswa selalu dikomunikasikan melalui wali kelas dan grup bersama orang tua," katanya. Pandangan yang sama disampaikan Filsafat Subing, murid kelas XI.5, SMAN 14 Bandar Lampung. Ia mengaku merasa nyaman bersekolah karena lingkungan sekolah yang bebas dari kekerasan dan perundungan. "Di sekolah kami sudah menjalankan BSAN dan kami merasa nyaman bersekolah di sini. Tidak ada bullying ataupun kekerasan. Kami selalu diingatkan untuk saling menghormati dan tidak berkelahi sesama teman," ujarnya. Menurut Filsafat, pengingat yang terus-menerus diberikan oleh guru maupun sesama siswa menjadi salah satu kunci terciptanya lingkungan sekolah yang positif. "Sampai saat ini belum ada kasus bullying. Kami saling mengingatkan untuk menjaga sikap dan menghormati satu sama lain. Jadilah teman yang mendukung, bukan yang menjatuhkan karena sekolah yang aman dimulai dari kita sendiri," tambahnya. Berbagai pengalaman tersebut menunjukkan bahwa pencegahan bullying tidak selalu dimulai dari langkah besar. Sikap saling menyapa, memilih teman yang baik, berani menolak pengaruh negatif, serta membangun komunikasi yang terbuka menjadi fondasi penting dalam menciptakan lingkungan belajar yang aman dan menyenangkan. Melalui Peraturan Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Permendikdasmen) Nomor 6 Tahun 2026 tentang Budaya Sekolah Aman dan Nayaman (BSAN), sekolah didorong untuk tidak hanya membangun ruang belajar yang bebas dari kekerasan, tetapi juga menumbuhkan generasi muda yang peduli, berempati, dan berani menjadi bagian dari solusi.*** (Penulis: Denty/Dokumentasi: Tim Kemendikdasmen) Laman: kemendikdasmen.go.id
Biro Komunikasi dan Hubungan Masyarakat
Sekretariat Jenderal
Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah
X: x.com/Kemdikdasmen
Instagram: instagram.com/kemendikdasmen
Facebook: facebook.com/kemendikdasmen
YouTube: KEMDIKDASMEN
Pertanyaan dan Pengaduan: ult.kemendikdasmen.go.id
Siaran Pers Kemendikdasmen: kemendikdasmen.go.id/pencarian/berita
#PendidikanBermutuuntukSemua
#KemendikdasmenRamah
Penulis: Denty Anugrahmawaty
Editor: Denty Anugrahmawaty