Depok, Jawa Barat, 12 Februari 2026– Penguatan pemerataan dan mutu pendidikan menjadi salah satu fokus kebijakan nasional di bawah arahan Presiden Prabowo Subianto. Presiden menyampaikan pentingnya menghadirkan model pendidikan yang mampu menjangkau seluruh wilayah secara lebih merata sekaligus meningkatkan kualitas layanan pembelajaran. Sejalan dengan arah kebijakan tersebut, konsep Sekolah Terintegrasi dipaparkan dalam Konsolidasi Nasional Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah Tahun 2026 di Depok, Jawa Barat, Selasa (11/2).
Dalam kesempatan tersebut, Staf Khusus Mendikdasmen Bidang Pembelajaran dan Sekolah Unggul, Arif Jamali, menyampaikan bahwa Sekolah Terintegrasi dirancang sebagai jawaban atas tantangan mendasar pendidikan di Indonesia. “Sekolah Terintegrasi ini menjawab dua masalah utama pendidikan, yaitu mutu yang belum optimal dan timpang antarwilayah,” ujarnya.
Arif menjelaskan bahwa Sekolah Terintegrasi tidak sekadar menghadirkan sekolah dengan fasilitas lengkap, tetapi membangun sistem yang terstruktur dan berkelanjutan dalam satu kawasan pendidikan terpadu.
“Sekolah Terintegrasi akan membangun sistem yang memastikan layanan pendidikan berkualitas, menjadi rujukan bagi sekolah sekitar dalam menyediakan layanan yang efisien dan sesuai kebutuhan, serta menjadi pusat peningkatan dan keberlanjutan mutu pendidikan di satu wilayah,” jelasnya.
Sebagai informasi, Sekolah Terintegrasi bersifat inklusif dan bebas pungutan biaya. Berbeda dengan Sekolah Rakyat yang diperuntukkan bagi anak dari keluarga miskin ekstrem dan miskin (desil 1 dan 2), serta Sekolah Unggul Garuda yang menyasar peserta didik dengan prestasi akademik maupun non-akademik sangat tinggi (gifted and talented), Sekolah Terintegrasi ditujukan bagi anak-anak berprestasi dari seluruh kelompok masyarakat secara inklusif, tanpa membedakan latar belakang sosial ekonomi.
Arif juga memaparkan Sekolah Terintegrasi memiliki tiga transformasi kunci. Pertama, transformasi infrastruktur melalui penyediaan fasilitas lengkap untuk mendukung pembelajaran berkelas dunia, seperti laboratorium lengkap hingga lahan praktik pertanian dan peternakan sebagai bagian dari penguatan keterampilan peserta didik. Kedua, transformasi sumber daya manusia dengan menghadirkan guru berkualitas yang direkrut melalui sistem seleksi dan pelatihan terstruktur, serta didukung Teaching and Learning Center sebagai ruang pengembangan strategi pembelajaran dan peningkatan kompetensi. Ketiga, transformasi pembelajaran melalui sistem yang berkelanjutan antarjenjang dengan kurikulum kombinasi (nasional dan internasional), pendekatan STEAMS (Science, Technology, Engineering, Arts, Mathematics, and Sports), yang diwajibkan menggunakan Bahasa Inggris atau bahasa asing lainnya (Mandarin, Jepang, Arab, hingga Perancis) sebagai pengantar komunikasi, serta dilengkapi program sertifikasi pelatihan dan penguatan keahlian peserta didik.

Strategi implementasi dilakukan melalui dua pendekatan, yaitu pembangunan sekolah baru dan peningkatan (upgrading) sekolah eksisting. Pembangunan sekolah baru berupa pembangunan sekolah negeri oleh Pemerintah Pusat dan pembangunan sekolah baru melalui kerja sama dengan pihak swasta, dengan skema pembangunan oleh pihak swasta dan biaya operasional oleh Pemerintah Pusat, di lahan seluas 20–30 hektare dengan fasilitas modern dan lengkap. Sementara itu, upgrading dilakukan melalui peningkatan sekolah swasta terintegrasi eksisting dan peningkatan sekolah negeri dengan pendekatan konsolidasi sekolah negeri dengan capaian baik dalam satu kecamatan, serta pembangunan unit tambahan di sekitar sekolah induk. Melalui Sekolah Terintegrasi, pemerintah berupaya menghadirkan pusat layanan pendidikan unggul yang mampu menjadi motor peningkatan mutu pendidikan di setiap wilayah.
Sebagai penutup, Arif menegaskan bahwa Sekolah Terintegrasi merupakan bagian dari upaya jangka panjang pemerintah dalam memperkuat fondasi pendidikan nasional. “Konsep ini tidak hanya membangun sekolah, tetapi membangun ekosistem pendidikan yang adil, inklusif, dan berkelanjutan di seluruh Indonesia,” pungkasnya.*** (Penulis: Destya/Editor: Denty A., Seno H./Dokumentasi: Tim BKHM)
Biro Komunikasi dan Hubungan Masyarakat
Sekretariat Jenderal Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah
YouTube: KEMDIKDASMEN
#PendidikanBermutuuntukSemua
#KemendikdasmenRamah