Diterbitkan pada: 27/01/2026
Tokyo, Kemendikdasmen — Kantor Atase Pendidikan dan Kebudayaan (Atdikbud) Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) Tokyo terus perkuat komitmen kemitraan pendidikan global antara Indonesia-Jepang. Komitmen tersebut terselenggara pada Jumat (23/1), lewat acara Friendship Night bagi para alumni Program Nihongo Partners dan Beasiswa Darmasiswa. Acara ini merupakan pelaksanaan perdana bagi alumni Nihongo Partners, sementara bagi alumni Beasiswa Darmasiswa, pertemuan terakhir sebelumnya dilaksanakan pada tahun 2018. Turut hadir Atase Pendidikan dan Kebudayaan, Amzul Rifin; Kuasa Usaha ad Interim KBRI Tokyo, Maria Renata Hutagalung; Koordinator Fungsi Penerangan dan Sosial Budaya, Muhammad Al Aula; serta para home staff dan local staff di lingkungan KBRI Tokyo. Acara tersebut juga dihadiri Executive Vice President Japan Foundation, Masaya Shimoyama serta Deputy Director-General for Press and Public Diplomacy, Ministry of Foreign Affairs of Japan, Natsuka Sakata. Secara keseluruhan, kegiatan ini dihadiri oleh sekitar 100 orang alumni Program Nihongo Partners dan Beasiswa Darmasiswa yang berdomisili di Tokyo dan sekitarnya. Program Nihongo Partners yang dikelola oleh Japan Foundation sejak tahun 2014 telah mengirimkan sekitar 3.700 peserta ke berbagai negara di Asia Tenggara untuk memperkenalkan bahasa dan budaya Jepang kepada siswa sekolah menengah atas. Indonesia merupakan negara penerima Nihongo Partners terbanyak, dengan jumlah peserta lebih dari 1.000 orang. Saat ini, terdapat 117 Nihongo Partners yang masih aktif mengajar di sekolah menengah atas di berbagai wilayah Indonesia. Sementara itu, Beasiswa Darmasiswa merupakan program beasiswa tahunan nongelar yang diselenggarakan oleh Pemerintah Indonesia sejak tahun 1974 bagi mahasiswa asing untuk mempelajari bahasa, seni, dan budaya Indonesia. Program ini pada awalnya ditujukan bagi negara-negara ASEAN, namun kini telah mencakup lebih dari 111 negara. Beasiswa Darmasiswa dikelola oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (kini Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah) bekerja sama dengan Kementerian Luar Negeri sebagai bagian dari upaya penguatan diplomasi budaya Indonesia. Mahasiswa asal Jepang pertama kali mengikuti program ini pada tahun 1975, dengan fokus awal pada pembelajaran seni dan budaya Indonesia, yang dalam beberapa tahun terakhir lebih diarahkan pada pembelajaran Bahasa Indonesia. Hingga saat ini, para alumni Beasiswa Darmasiswa telah berkiprah di berbagai bidang, antara lain akademik, bisnis, seni, dan bidang profesional lainnya. Pada kegiatan ini, hadir sebanyak 19 orang alumni Beasiswa Darmasiswa dari sekitar 500 orang alumni Beasiswa Darmasiswa dari Jepang, mulai dari alumni senior yang mengikuti program pada tahun 1987–1988 hingga alumni termuda yang mengikuti program pada tahun 2024–2025 di berbagai perguruan tinggi di Indonesia. Amzul menyatakan acara tersebut merupakan komitmen kuat yang dilaksanakan oleh Kemendikdasmen lewat Kantor Atdikbud KBRI Tokyo untuk terus mendorong kemitraan global bidang pendidikan antara Indonesia-Jepang. “Kami terus mendorong partisipasi aktif para alumni untuk memberikan sumbangsih nyata guna pengembangan kualitas pendidikan, kebahasaan, dan kebudayaan khususnya di jenjang pendidikan dasar dan menengah,” jelasnya. Selanjutnya, Maria Renata Hutagalung menyampaikan bahwa Program Nihongo Partners dan Beasiswa Darmasiswa telah menjadi jembatan penghubung antara Indonesia dan Jepang serta memberikan kontribusi yang signifikan dalam memperkuat diplomasi antar-masyarakat (people-to-people diplomacy). Para alumni kedua program tersebut hingga saat ini tetap aktif berkontribusi dalam kegiatan akademik, budaya, dan sosial yang mempererat hubungan kedua negara. Mewakili alumni Beasiswa Darmasiswa, Masako Tsuwano, menyampaikan pengalamannya selama mengikuti Program Darmasiswa di Universitas Negeri Yogyakarta (dahulu IKIP Yogyakarta) pada tahun 1997–1998. Dalam testimoninya, Masako mengungkapkan dua pengalaman yang paling berkesan selama berada di Yogyakarta, yaitu pertemuannya dengan almarhum Mbah Maridjan yang memberikan nama Indonesia kepadanya, Wulandari Widyaningsih, serta pemberian syal dari ibu pemilik indekos yang hingga kini masih beliau gunakan. “Pengalaman saya selama di Yogyakarta memberikan pengaruh besar dalam perjalanan hidup saya. Hingga saat ini, saya tetap menjalin komunikasi dengan rekan-rekan di Yogyakarta dan secara rutin menyempatkan diri untuk berkunjung kembali ke kota tersebut,” pungkas Masako. Tak hanya Masako, alumni Beasiswa Darmasiswa lainnya juga berharap agar kegiatan ini dapat kembali dilaksanakan pada tahun-tahun mendatang karena dinilai sangat bermanfaat dalam memperkuat persahabatan dan persaudaraan kedua bangsa terkhusus untuk mempererat hubungan people-to-people antara Indonesia dan Jepang.
(Penulis: Atdikbud KBRI Tokyo / Editor: Andrew Fangidae, Stephanie, Denty)
Penulis: Stephanie Westiana
Editor: Denty Anugrahmawaty