Jakarta, 11 Desember 2025 — Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) melalui Pusat Penguatan Karakter melaksanakan kegiatan penguatan Gerakan #RukunSamaTeman sebuah inisiatif yang mendorong peserta didik untuk saling mendukung melalui pendampingan sebaya. Program ini digerakkan oleh agen perubahan siswa yang disebut Sahabat Hebat , yang diikuti oleh perwakilan siswa setiap sekolah dari berbagai provinsi di Indonesia untuk mengenali diri dan pengembangan potensi siswa.
Sahabat Hebat berperan untuk menumbuhkan budaya positif di kalangan pelajar. Siswa dilatih untuk saling mendengar, saling menghargai, dan berani mengingatkan teman sebaya apabila terjadi perilaku yang berpotensi merugikan. Kegiatan ini dibagi ke dalam enam kelas untuk memastikan proses pembelajaran berlangsung lebih terarah dan interaktif.
Dalam paparannya, Lilis Hayati, Fasilitator Pusat Penguatan Karakter, menjelaskan bahwa Sahabat Hebat hadir untuk menciptakan pertemanan yang lebih sehat. “Gerakan ini hadir sebagai respons terhadap situasi yang sering ditemui di sekolah, seperti ejekan, perilaku yang mengabaikan perasaan, ikut-ikutan tanpa berpikir, kesulitan menolak dengan baik, cyberbullying, serta banyak siswa yang memendam masalahnya sendiri,” ujarnya di Jakarta (11/12).
Ia menyoroti realita di lapangan masih ada siswa yang merasa sendirian, takut bercerita, atau pernah mengalami kekerasan verbal, fisik, maupun digital tetapi tidak tahu harus bicara kepada siapa. “Oleh karena itu, Sahabat Hebat dirancang untuk memberikan ruang aman dan dukungan sesama teman,” ungkapnya. Gerakan ini melibatkan semua siswa, teman sekelas, teman lintas kelas, sahabat sebaya, guru, serta fasilitator, dengan penekanan bahwa pelopor utamanya adalah para peserta didik sendiri.
Pada sesi pertama, para Sahabat Hebat dibekali prinsip pertemanan positif: mendengarkan dengan empati, menghargai perasaan teman, mencegah perundungan, menegur dengan sopan, hingga mengajak teman lain untuk membangun lingkungan sekolah yang lebih sehat. Lilis menekankan bahwa nilai-nilai tersebut harus menjadi kebiasaan sehari-hari. “Sahabat Hebat harus hadir di mana pun: di kelas, di kantin, di lorong sekolah, bahkan di media sosial. Gerakan ini berjalan setiap hari, bukan hanya saat kegiatan berlangsung,” jelasnya.
Salah satu peserta, Andi Aisyah Mughny Sakilah dari SMPN 9 Penajam Paser Utara, Kalimantan Timur, menyampaikan bahwa ia mendapatkan pemahaman baru tentang cara merespons situasi yang mengarah pada perilaku tidak aman. “Saya belajar bahwa ketika melihat perilaku yang bisa melukai perasaan teman, kami harus berani bilang ‘stop’. Itu cara sederhana tapi penting untuk melindungi dan menjaga teman,” ujarnya.
Dalam sesi diskusi, peserta membahas teknis pelaksanaan di sekolah masing-masing, termasuk pembentukan sahabat sebaya antara murid dan guru, mekanisme unjuk bakat di tengah jadwal padat, penerapan kasus pada materi keempat hingga tahap roleplay, serta mitigasi trauma melalui penyediaan pojok tenang dan pendampingan guru.
Mengenal Diri & Pengembangan Potensi
Selain membangun relasi sosial yang sehat, Sahabat Hebat mendapatkan pelatihan Mengenal Diri dan Pengembangan Potensi. Materi ini penting agar agen perubahan memahami diri mereka terlebih dahulu sebelum mendampingi orang lain.
Lilis menjelaskan bahwa pemahaman diri membuat Sahabat Hebat lebih percaya diri dalam menjalankan perannya. “Semakin mereka mengenali diri, semakin kuat mereka sebagai agen perubahan. Mereka menjadi lebih stabil secara emosional, lebih sabar, dan lebih bijak dalam membantu teman,” ujarnya
Melalui kegiatan ini, nilai-nilai pertemanan positif diharapkan dapat terus diterapkan para peserta di sekolah masing-masing. Kebiasaan saling mendengar, menghargai perasaan teman, dan menjaga satu sama lain menjadi dasar penting agar Gerakan #RukunSamaTeman dapat berjalan setiap hari dan membantu mewujudkan lingkungan belajar yang aman dan nyaman serta rukun bagi seluruh siswa. (Penulis: Ikke, Intan) Fotografer Puspeka