Kabupaten Cianjur, Jawa Barat, 5 Oktober 2026 — Di pelataran sebuah rumah sederhana di Kampung Rawagalih, Cianjur, deru mesin sepeda motor dan dentang kunci pas kini menjadi irama keseharian Sulaeman. Pemuda berusia 20 tahun ini adalah salah satu sosok penerima manfaat program Pendidikan Kecakapan Wirausaha (PKW) yang diselenggarakan oleh Lembaga Kursus dan Pelatihan (LKP) di Cianjur. Bagi Sulaeman, program tersebut bukan sekadar pelatihan teknis biasa, melainkan sebuah uluran tangan yang mengubah jalan hidupnya.
Sebelum tersentuh manfaat program ini, masa depan lulusan SMK Agrabinta tersebut dibayangi ketidakpastian. Sebagai bagian dari keluarga beranggota empat orang yang mengandalkan sang ayah sebagai penopang utama, Sulaeman memikul kehendak kuat untuk membantu perekonomian rumah tangga. Sempat melintas di benaknya pikiran untuk merantau jauh ke luar kota demi mencari penghidupan, meninggalkan kampung halaman yang minim lapangan kerja.
Namun, nasib berkata lain ketika informasi mengenai program PKW menghampirinya melalui sang guru sekolah. Mengikuti seleksi yang ketat di tengah ratusan pendaftar, Sulaeman terpilih menjadi salah satu dari 30 penerima manfaat. Kesempatan inilah yang menjadi titik balik penting dalam hidupnya.
Selama 19 hari masa pelatihan, Sulaeman tidak hanya menerima ilmu otomotif yang lebih mendalam dari yang pernah ia pelajari di sekolah, tetapi juga sertifikasi kompetensi resmi secara gratis. Bantuan ini dirasakannya sangat berarti, mengingat biaya sertifikasi secara mandiri tentu sulit terjangkau baginya.
Dampak nyata dari statusnya sebagai penerima manfaat semakin terasa usai pelatihan usai. Program PKW tidak melepaskannya begitu saja, melainkan membekalinya dengan modal modal modal usaha fisik berupa perangkat kompresor, satu set kunci-kunci mekanik, hingga pasokan oli mesin. Tak hanya itu, akses pertautan dengan perbankan seperti Bank BJB turut dibukakan untuk mendukung kemandirian usahanya.
"Sangat bermanfaat lah kalau dibilang mah, manfaat lah. Yang tadinya tidak tahu jadi tahu, dapat ilmu yang lebih banyak," ungkap Sulaeman polos saat menceritakan pengalaman yang ia dapatkan.
Berbekal bantuan alat kerja tersebut, Sulaeman memberanikan diri membuka usaha bengkel sepeda motor mandiri tepat di rumahnya. Meski tinggal di area perkampungan yang jauh dari jalan raya utama, ia jeli melihat peluang: warga desanya memiliki banyak sepeda motor, namun keberadaan bengkel sangat langka.
Kini, dari bengkel kecilnya di Kampung Rawagalih, Sulaeman telah merasakan dampak nyata program tersebut. Hasil dari setiap baut yang ia kencangkan dan mesin yang ia perbaiki kini bisa digunakan untuk memenuhi kebutuhan pribadi sekaligus membantu menyokong kebutuhan keluarganya. Rasa lelah dari pekerjaan fisik yang ia jalani terbayar dengan kebanggaan bisa berdikari di tanah kelahiran sendiri.
Sebagai penerima manfaat yang merasakan langsung dampak program, Sulaeman berharap program PKW terus dilanjutkan dan ditingkatkan, khususnya dalam memperbanyak porsi praktik lapangan serta menambah jumlah instruktur pendamping. Baginya, bantuan yang tepat sasaran seperti ini adalah bukti nyata bahwa anak-anak muda di pelosok desa pun mampu bangkit dan mandiri jika diberi kesempatan dan dukungan yang tepat. (Penulis & Dokumentasi: Lili Dyah Ayu Candra/Editor: Denty)
Biro Komunikasi dan Hubungan Masyarakat
Sekretariat Jenderal
Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah
Laman: kemendikdasmen.go.id
X: x.com/Kemdikdasmen
Instagram: instagram.com/kemendikdasmen
Facebook: facebook.com/kemendikdasmen
YouTube: KEMDIKDASMEN
Pertanyaan dan Pengaduan: ult.kemendikdasmen.go.id
Siaran Pers Kemendikdasmen: kemendikdasmen.go.id/pencarian/siaran-pers
#PendidikanBermutuUntukSemua
#KemendikdasmenRamah