26/02/2026 09:28:23
Jakarta, Kemendikdasmen - Memasuki pekan pertama bulan suci Ramadan, Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen), Abdul Mu’ti, memberikan ceramah kepada jemaah salat tarawih di Masjid Al Falah, Bendungan Hilir, Jakarta Pusat, Senin (23/2). Dalam ceramahnya, ia mengajak jemaah untuk meraih kemuliaan (fadilah) Ramadan dengan mengisi hari-hari melalui berbagai amalan dan ibadah. “Ramadan adalah bulan yang di dalamnya terdapat banyak sekali kemuliaan. Kemuliaan itu akan menjadi sempurna kalau kita isi dengan berbagai amalan dan ibadah yang sesuai dengan syariat. Suasana puasa memberikan dorongan spiritual dan kekuatan mental untuk kita dapat mengatasi berbagai tantangan dan kesulitan hidup,” ungkapnya. Dalam kesempatan tersebut, Menteri Mu’ti membahas fenomena communal piety atau kesalehan komunal yang terbentuk dari lingkungan di mana seseorang berada. Ia menyebutkan bahwa semangat beribadah seseorang sangat dipengaruhi oleh orang-orang di sekitarnya, baik dalam lingkup keluarga maupun tempat kerja. Terkait makna Ramadan sebagai bulan Qur’an (Syahrul Qur'an), Menteri Mu’ti menjelaskan dua perspektif sejarah turunnya Al-Qur'an. Mengacu pada Surah Al-Baqarah Ayat 185, ia menekankan bahwa Al-Qur'an bukan sekadar bacaan, tetapi pembeda antara yang benar (haq) dan yang tidak benar (batil). “Peristiwa Nuzulul Qur’an pada 17 Ramadan merupakan pertanda penting diangkatnya Muhammad sebagai Rasulullah. Tradisi tadarus yang kita laksanakan terinsiprasi dari Rasulullah yang senantiasa tadarus Al-Qur’an bersama (malaikat) Jibril. Kita (perlu) memperbanyak membaca Al-Qur'an, terutama pada frekuensi daripada jumlah bacaannya,” tuturnya. Ia mengimbau agar umat Islam tidak hanya mengejar jumlah bacaan, melainkan lebih membaca Al-Qur’an dengan tartil atau pelan-pelan. Menurutnya, membaca Al-Qur'an dengan penuh penghayatan akan mendatangkan hidayah dalam kehidupan sehari-hari. Selain itu, Menteri Mu’ti juga membahas aspek sosial Ramadan sebagai bulan persaudaraan (Syahrul Ukhuwah). Ia melihat tradisi buka bersama yang ada di Indonesia merupakan cerminan kerukunan bangsa. Menurutnya, buka bersama sering kali diikuti oleh seluruh lapisan masyarakat, tidak hanya mereka yang berpuasa saja. “Buka bersama itu menunjukkan betapa rahmat dari pengamalan ibadah (puasa) ini dirayakan oleh semua kalangan masyarakat, apapun agamanya. Nabi menyebutkan bagi orang yang berpuasa itu ada dua kebahagiaan, yang pertama bahagia ketika berbuka dan bahagia saat nanti di akhirat bertemu Allah SWT,” jelasnya. Mengakhiri ceramahnya, Menteri Mu’ti mengajak seluruh jemaah untuk memaksimalkan kemampuannya dalam beribadah dan bersedekah. Ia berpesan agar Ramadan dimanfaatkan untuk memperkuat persatuan dan kesatuan bangsa. “Kita bangun kerukunan, persatuan, khususnya ukhuwah Islamiyah dan juga persatuan bangsa atau ukhuwah wathaniyah,” tutupnya.*** (Penulis: Fairuz Zain/Editor: Denty A./Seno H./Fotografer: Irfan)
Ia menegaskan bahwa kemuliaan bulan Ramadan selain sudah dimuliakan oleh Allah SWT, juga perlu diisi dengan amal saleh. Ibadah yang dilakukan selama bulan Ramadan harus menjadi momentum bagi setiap orang untuk menjadi pribadi yang lebih baik.