Diterbitkan pada: 06/06/2026
Jakarta, Kemendikdasmen — Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) melalui Pusat Prestasi Nasional (Puspresnas) resmi menggelar Program Bina Talenta Indonesia (BTI) Tahun 2026 sebagai bagian dari upaya memperkuat pengembangan prestasi dan manajemen talenta nasional. Program ini menjadi langkah strategis dalam menyiapkan sumber daya manusia unggul di bidang STEM (Science, Technology, Engineering, dan Mathematics), Koding, dan Kecerdasan Artifisial, serta Penguatan Karakter menuju Indonesia Emas 2045. Program BTI merupakan bagian dari implementasi Peraturan Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Permendikdasmen) Nomor 25 Tahun 2025 tentang Manajemen Talenta Murid. Melalui program ini, Kemendikdasmen memperkuat pembinaan talenta murid secara berkelanjutan melalui pengembangan kompetensi, karakter, dan jejaring kolaborasi yang mendukung tumbuhnya generasi berprestasi. Sekretaris Jenderal Kemendikdasmen, Suharti, pada acara Kick off (Pembukaan) Program BTI Tahun 2026 menegaskan bahwa pengembangan talenta merupakan investasi penting dalam membangun kemandirian dan daya saing bangsa di tengah perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi yang semakin pesat. Menurutnya, kemajuan suatu negara tidak hanya ditentukan oleh kekayaan sumber daya alam, tetapi juga oleh kualitas sumber daya manusia yang mampu mengelolanya. “Indonesia memiliki sumber daya alam yang luar biasa. Namun, sebesar apa pun potensi yang kita miliki, tidak akan dapat dikelola secara optimal tanpa didukung sumber daya manusia yang unggul. Karena itu, pengembangan talenta menjadi investasi penting bagi masa depan bangsa,” ujar Suharti di Jakarta, Rabu (3/6). Suharti menjelaskan bahwa Kemendikdasmen terus membangun ekosistem talenta yang mencakup identifikasi, pembinaan, hingga pengembangan secara berkelanjutan. Pada tahun 2026, BTI memperkuat desain program dengan fokus pembinaan pada tiga bidang utama, yaitu STEM, Koding, dan Kecerdasan Artifisial. Pembinaan juga disesuaikan dengan tingkat kemahiran peserta agar pengembangan kompetensi berlangsung lebih terarah dan efektif. Pada kesempatan yang sama, Staf Ahli Menteri Bidang Manajemen Talenta, Mariman Darto, menyampaikan bahwa program BTI merupakan bagian penting dari upaya memperkuat ekosistem pengembangan talenta nasional. Sementara itu, Kepala Pusat Prestasi Nasional, Maria Veronica Irene Herdjiono, menjelaskan bahwa BTI Tahun 2026 tidak hanya berfokus pada pengembangan kompetensi dan prestasi murid, tetapi juga penguatan kapasitas guru sebagai pemandu talenta. “Tahun ini terdapat sekitar 3.000 pendaftar yang mengikuti proses seleksi. Dari jumlah tersebut, terpilih 800 murid dan 280 pemandu talenta untuk mengikuti Program Bina Talenta Indonesia Tahun 2026,” ujar Irene. Dari total peserta tersebut, bidang STEM menjadi program dengan jumlah peserta terbanyak, yakni 720 peserta yang terdiri atas 560 murid dan 160 pemandu talenta. Sementara itu, bidang Koding diikuti oleh 180 peserta yang terdiri atas 120 murid dan 60 pemandu talenta. Adapun bidang Kecerdasan Artifisial diikuti oleh 180 peserta, dengan rincian 120 murid dan 60 pemandu talenta. Irene menjelaskan bahwa peserta berasal dari 38 provinsi di seluruh Indonesia, termasuk wilayah tertinggal, terdepan, dan terluar (3T). Program ini didukung oleh 27 perguruan tinggi mitra yang tersebar dari Sumatra hingga Papua sebagai bentuk kolaborasi dalam memperluas akses pembinaan talenta yang merata dan inklusif. BTI Tahun 2026 akan dilaksanakan secara luring selama tujuh hari di perguruan tinggi mitra. Selain memperoleh pembinaan pada bidang STEM, Koding, dan Kecerdasan Artifisial, serta Penguatan Karakter, peserta juga akan mengikuti asesmen literasi sains, numerasi, dan membaca; pre-test dan post-test; kegiatan kolaboratif; kunjungan Dunia Usaha dan Dunia Industri (DUDI); pameran hasil karya; serta program pengimbasan yang dilaksanakan setelah pelatihan selesai. Adapun 27 perguruan tinggi tersebut adalah Universitas Sanata Dharma, Universitas Bina Nusantara, Universitas Kristen Petra, Direktorat Persiapan Bersama ITB, Universitas Negeri Surabaya, Universitas Pendidikan Indonesia, Politeknik Manufaktur Bandung, Universitas Muhammadiyah Malang, Politeknik Elektronika Negeri Surabaya, Universitas Negeri Jakarta, Institut Teknologi Del, Universitas Sultan Ageng Tirtayasa, Universitas Trisakti, dan Universitas Multimedia Nusantara. “Kolaborasi dengan 27 perguruan tinggi mitra menunjukkan komitmen bersama dalam membangun pengembangan talenta yang inklusif, adaptif, dan berkelanjutan,” kata Irene. Antusiasme terhadap program ini juga disampaikan oleh Teuku Muda Laksamana, murid SMAN Modal Bangsa, Kabupaten Aceh Besar, yang akan mengikuti pembinaan bidang Koding dan Penguatan Karakter bersama Universitas Bina Nusantara. Ia mengaku bersyukur dapat terpilih setelah melalui proses seleksi yang diikuti ribuan peserta dari seluruh Indonesia.
“Talenta-talenta terbaik Indonesia perlu dipersiapkan secara sistematis agar mampu menjawab tantangan global sekaligus berkontribusi bagi kemajuan bangsa,” ucap Mariman.
Selanjutnya, Fakultas Teknik Universitas Negeri Yogyakarta, Politeknik Negeri Jakarta, Universitas Padjadjaran, Politeknik ATMI Surakarta, Universitas Katolik Parahyangan, Universitas Muhammadiyah Jakarta, Universitas Kristen Maranatha, Universitas Atma Jaya Yogyakarta, Universitas Mulawarman, Universitas Teknokrat Indonesia, Universitas Musamus, Universitas Amikom Yogyakarta, serta Universitas Negeri Makassar.