Diterbikan pada: 8 Juni 2026
Garut, Jawa Barat, 8 Juni 2026 – Wakil Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Wamendikdasmen), Fajar Riza Ul Haq, menegaskan bahwa sekolah harus menjadi ruang yang memungkinkan peserta didik tumbuh sebagai pribadi yang mandiri, kreatif, dan mampu menghadirkan solusi atas berbagai persoalan di sekitarnya. Hal tersebut disampaikannya saat mengunjungi SMA/Pondok Pesantren Welas Asih, Kabupaten Garut, Jawa Barat, Sabtu (6/6). Dalam kunjungan tersebut, Wamendikdasmen meninjau berbagai praktik pembelajaran yang dikembangkan sekolah, mulai dari penerapan Disiplin Positif, pengembangan portofolio siswa, budaya literasi, hingga unit bisnis yang dikelola peserta didik. Menurutnya, berbagai inisiatif tersebut menunjukkan bagaimana proses pendidikan dapat berlangsung secara bermakna dan relevan dengan kehidupan nyata. Salah satu hal yang menarik perhatian Wamendikdasmen adalah penerapan Disiplin Positif yang melibatkan siswa dalam penyusunan kesepakatan bersama terkait perilaku dan tanggung jawab selama menjalani pendidikan di lingkungan sekolah dan pesantren. Pendekatan tersebut mendorong tumbuhnya kesadaran dan tanggung jawab melalui kesepakatan yang dibangun bersama. “Jadi disiplinnya berdasarkan kesadaran, bukan paksaan,” ujar Fajar saat berdialog dengan para siswa mengenai konsep social contract yang diterapkan di sekolah tersebut. Wamendikdasmen juga berdialog dengan para siswa terkait berbagai proyek pembelajaran yang mereka jalankan. Salah satunya adalah metode portofolio FVDS (Feel, Imagine, Do, Share), yang mendorong peserta didik untuk mengidentifikasi persoalan di sekitarnya, merancang solusi, melaksanakan proyek, dan membagikan hasil pembelajaran kepada masyarakat. Menurut Fajar, pendekatan tersebut mencerminkan praktik Pembelajaran Mendalam (Deep Learning) yang menempatkan siswa sebagai subjek aktif dalam proses belajar. Melalui pengalaman langsung, siswa tidak hanya menerima pengetahuan, tetapi juga belajar mengamati, menganalisis, menuliskan gagasan, dan mempresentasikan hasilnya. Dalam kesempatan itu, salah seorang siswa memaparkan proyek podcast literasi sains yang dikembangkan melalui metode FVDS. Proyek tersebut berangkat dari keprihatinan terhadap rendahnya literasi sains dan diwujudkan melalui produksi konten edukatif yang dipublikasikan secara digital dan dipresentasikan dalam kegiatan Share Day. Selain meninjau proses pembelajaran, Wamendikdasmen juga menyaksikan berbagai karya dan inisiatif kewirausahaan siswa. Salah satu yang mendapat perhatian adalah Nataji Farm, sebuah proyek bisnis peternakan ayam organik yang mengintegrasikan ketahanan pangan, pengelolaan limbah, dan edukasi masyarakat. Proyek tersebut telah lolos tahap awal Festival Inovasi dan Kewirausahaan Siswa Indonesia (FIKSI). Fajar mengapresiasi kemampuan siswa dalam menyusun perencanaan bisnis secara sistematis, mulai dari identifikasi masalah, perumusan solusi, strategi pengembangan usaha, hingga perhitungan kebutuhan operasional. Menurutnya, kemampuan tersebut menunjukkan bahwa peserta didik telah mampu menghubungkan pembelajaran dengan kebutuhan nyata di masyarakat. Ia bahkan menilai kemampuan siswa dalam mempresentasikan dan merancang proyek bisnis tersebut berada di atas rata-rata dan menunjukkan kualitas pengembangan diri yang sangat baik, terutama dalam aspek literasi, numerasi, dan pemecahan masalah. Kunjungan kemudian dilanjutkan ke studio digital Watex Impact Solution yang dikelola oleh siswa. Unit tersebut bergerak di bidang multimedia, dokumentasi digital, pemasaran digital, dan produksi konten kreatif. Melalui unit tersebut, para siswa memperoleh pengalaman langsung dalam mengelola proyek dan berinteraksi dengan mitra profesional. Menurut Fajar, pengalaman belajar yang terhubung dengan dunia nyata seperti ini merupakan bagian penting dari Pembelajaran Mendalam. Siswa tidak hanya memahami konsep secara teoritis, tetapi juga mengalami secara langsung proses kerja, kolaborasi, dan penyelesaian masalah. Wamendikdasmen juga mengapresiasi budaya literasi yang dikembangkan sekolah. Salah satu program yang dijalankan adalah mendorong setiap siswa menulis biografi atau catatan perjalanan selama menempuh pendidikan sebagai sarana refleksi dan dokumentasi proses belajar. Selain itu, ia menilai pendekatan pendidikan yang dikembangkan Welas Asih tidak hanya memperhatikan aspek akademik, tetapi juga penguatan karakter, kecerdasan sosial, dan kearifan lokal. Hal tersebut terlihat dari berbagai program yang mendorong pembentukan kebiasaan positif serta pelatihan bahasa dan budaya Sunda sebagai bagian dari pembinaan karakter siswa. Di akhir kunjungan, Fajar menyampaikan apresiasi atas perkembangan SMA/Pondok Pesantren Welas Asih yang menurutnya menunjukkan kemajuan signifikan dibandingkan kunjungan sebelumnya. Ia berharap praktik-praktik baik yang dikembangkan sekolah dapat terus tumbuh dan menginspirasi satuan pendidikan lainnya. “Yang paling penting adalah prosesnya. Ketika anak-anak terlibat secara aktif dalam memecahkan masalah, berinovasi, dan menghasilkan karya yang bermanfaat, di situlah pendidikan menemukan maknanya. Sekolah harus menjadi ruang yang menumbuhkan inovasi dan kemandirian,” pungkas Fajar. Laman: kemendikdasmen.go.id #PendidikanBermutuuntukSemua
Biro Komunikasi dan Hubungan Masyarakat
Sekretariat Jenderal
Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah
X: x.com/Kemdikdasmen
Instagram: instagram.com/kemendikdasmen
Facebook: facebook.com/kemendikdasmen
YouTube: KEMDIKDASMEN
Pertanyaan dan Pengaduan: ult.kemendikdasmen.go.id
Siaran Pers Kemendikdasmen: kemendikdasmen.go.id/pencarian/siaran-pers
#KemendikdasmenRamah
Sumber: Siaran Pers Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah Nomor: 475/sipers/A6/VI/2026
Penulis: Muhammad Irfan
Editor: Denty Anugrahmawaty
PaudDikdasmen
Pendidikan Vokasi
Dinas Pendidikan
Guru Dikdasmen
Murid Dikdasmen
Mitra Dikdasmen
Wajib Belajar 13 Tahun dan Pemerataan Kesempatan Pendidikan
Penguatan Pendidikan Unggul, Literasi, Numerasi dan Sains Teknologi